Program itu diarahkan agar perpustakaan dapat menjadi ruang pengembangan keterampilan masyarakat.

“Transformasi perpustakaan inklusi sosial memberikan ruang pelatihan, seperti membuat sabun cuci piring, obat herbal, dan lain sebagainya,” ungkap Kusairi.

Sementara itu, Masyarakat Setempat Alfarisi, menilai perkembangan literasi di Pamekasan sudah menunjukkan kemajuan. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama akses literasi bagi masyarakat di pelosok desa.

Dia menyebutkan, masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas literasi dibandingkan dengan masyarakat di wilayah perkotaan.

“Minat baca antarsiswa dan masyarakat masih berbeda. Terlebih, pemanfaatan literasi digital lebih banyak digunakan untuk hiburan daripada belajar,” ujarnya.

Alfarisi berharap gerakan literasi tidak hanya dikembangkan di lingkungan sekolah. 

Ia menilai, penguatan budaya literasi juga perlu dilakukan di keluarga, pesantren, dan lingkungan masyarakat.

“Literasi perlu dikembangkan hingga ke masyarakat, terutama yang berada di pelosok pedesaan yang terpencil,” katanya.

Alfarisi juga mendorong adanya peningkatan akses literasi digital di lingkungan sekolah, pesantren, dan masyarakat. 

Karena itu, lanjutnya, dukungan fasilitas menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas gerakan literasi.