Pada 2018, ketika Madura United memperkuat skuad dengan sejumlah pemain top, termasuk Maitimo dan Benny Wahyudi, harapan Mbah Hosen pun sederhana: melihat tim kebanggaannya menjadi juara.
"Harapan Mbah ingin melihat Madura United jadi juara tahun ini," ujarnya.
Kalimat tersebut kini terdengar seperti potongan pesan yang ditinggalkan seorang suporter kepada klub yang dicintainya.
Mbah Hosen meninggal dunia pada Sabtu (19/9/2026). Kabar itu membawa duka bagi keluarga besar Madura United.
Selama bertahun-tahun, ia telah menempati ruang khusus dalam cerita klub; ruang yang berada di tribun, tempat para pemain mungkin hanya berada selama 90 menit, sementara seorang suporter bisa menghabiskan puluhan tahun hidupnya di sana.
Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, mengenang Mbah Hosen sebagai sosok dengan kecintaan luar biasa kepada Laskar Sape Kerrab.
"Beliau mengajari kami satu hal: mencinta tim bukan soal usia. Beliau suporter tertua kami, setia sejak Madura United baru ada," kenang Achsanul dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Sabtu (19/9).
Mbah Hosen memang dikenal sebagai suporter tertua Madura United. Namun, yang membuatnya dikenang bukan semata soal umur.
Ada konsistensi dalam kehadirannya.
Ia datang ketika pertandingan berlangsung. Berdiri di tempat yang sama. Mengenakan atribut klub. Menikmati laga dengan caranya sendiri.

