"Selalu berdiri di tribun bawah papan skor lengkap dengan atribut Madura, berjoget sepanjang pertandingan tanpa peduli usia," ungkap Achsanul.
Dari tempat itu, Mbah Hosen menjadi bagian dari atmosfer pertandingan. Ia tidak perlu berada di tengah lapangan untuk memberi pengaruh. Kehadirannya sendiri sudah menjadi pemandangan yang ditunggu.
Pada awal musim Super League 2026/2027, Mbah Hosen masih sempat menyaksikan Madura United berlaga.
Jumat (18/9/2026), Laskar Sape Kerrab menghadapi PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) Pamekasan. Madura United menang 2-1.

Sehari kemudian, Mbah Hosen berpulang.
Pertandingan itu menjadi salah satu kenangan terakhir tentang sosok yang selama bertahun-tahun mengisi tribun dengan atribut dan gerak tubuhnya.
Kepergian Mbah Hosen juga terjadi hanya beberapa hari setelah Madura United kehilangan Mimit Tirmidzi, suporter yang dikenal loyal mendukung Laskar Sape Kerrab.
Dalam rentang sembilan hari, dua sosok dari tribun pergi.
"Dalam 9 hari, tribun ini kehilangan dua penjaganya. Berat rasanya. Selamat jalan, Mbah Hosen. Terima kasih untuk kesetiaan yang tidak pernah putus," kata Achsanul.
Mbah Hosen meninggalkan cerita yang sederhana. Ia mencintai sepak bola dengan cara yang paling ia pahami: datang ke stadion dan mendukung timnya.

