Keseharian Bintan

Di rumah, kata ibundanya, Bintan tetaplah anak seusianya. Ia bermain, belajar, tidur siang, mengaji, dan sesekali menikmati gadget. Bedanya, gadget itu kadang berubah menjadi piano imajiner. Tidak ada alat musik di rumah. Bintan lalu mencari jalan lain.

"Hobinya itu bermain musik lewat gadget, terus kayak piano gitu. Itu idenya sendiri di aplikasi gadgetnya, karena memang di rumah tidak punya alat musik ya, tapi dia tidak kehabisan akal untuk mencoba-coba lewat gadget," tuturnya.

Ia memainkan aplikasi musik di gadget, mencoba nada demi nada. Ide itu datang dari dirinya sendiri. Arimas membiarkannya bereksperimen. Bagi sang ibu, kegemaran anak tidak selalu harus dimulai dari benda yang mahal. Kadang cukup dari rasa ingin tahu.

Selain musik, Bintan senang membuat kerajinan tangan. Ia bisa meminta bahan untuk membuat bunga atau benda-benda sederhana lainnya. Sang ibu berusaha menyediakan apa yang dibutuhkan.

“Kalau dia ingin membuat bunga dari ini gitu, kami fasilitasi, kami belikan apa yang dia butuhkan,” kata Arimas.

Ada pula musik dan nyanyian. Dari sanalah bakat Bintan perlahan menemukan bentuk.

Pagi Bintan dimulai dengan salat Subuh. Setelah itu ia bersiap ke sekolah. Sekitar pukul 13.30, ketika kegiatan belajar selesai, ia pulang. Ada satu kebiasaan yang dijaga orang tuanya: tidur siang, meski sebentar.

Bagi Arimas dan suaminya, tidur siang adalah bagian dari disiplin anak-anak. Sesudahnya, jika ada kursus, Bintan berangkat sekitar pukul 15.30. Pulang dari kursus, ia mengaji menjelang Magrib hingga Isya.