Setelah itu, belajar untuk pelajaran esok hari. Lalu tidur. Batasnya sekitar pukul 22.00 WIB.
"Setelah isya itu kan pulang, lalu belajar sebentar, apa pelajaran yang besoknya. Sudah, setelah itu, karena sudah sholat isya di tempat ngajinya ya, lantas tidur malam. Itu dibiasakan maksimalnya ini, jam 10 tidur malam," ujarnya.
BESOK PAGI, siklus itu berulang.
Di sela jadwal tersebut, Bintan tidak banyak bermain di luar rumah. Sekolah yang cukup padat membuatnya sering merasa lelah. Ketika pulang, katanya, ia lebih memilih tidur. Waktu bermain lebih banyak memanfaatkan hari libur Sabtu dan Minggu.
Namun di senggang waktu dua hari itu, ia biasanya sengaja membiasakan ngajak anak-anaknya berkunjung ke rumah kakek dan nenek. "Jadi kami ajari juga mereka pentingnya silaturahmi," kata Arimas.
Gadget pun mendapat tempat. Tetapi waktunya lebih longgar pada akhir pekan. Yang membuat Arimas tenang, Bintan cenderung menggunakan perangkat itu untuk kegiatan yang menurutnya positif.
Barangkali di situlah pola pengasuhan keluarga ini bekerja. Tidak melarang secara berlebihan, tetapi memberi arah. “Kami mendidik anak-anak dengan santai tapi serius, dan tidak otoriter. Jadi apa-apa tidak harus sesuai keinginan kami untuk anak-anak.” ucapnya.
Santai, karena anak-anak tetap diberi ruang untuk mengenali kesukaannya sendiri. Serius, karena ketika bakat mulai terlihat, orang tua memberi jalan agar bakat itu berkembang.
"Kami melihat potensi dan keinginan anak-anak dulu, minatnya seperti apa, bakatnya apa, lalu kami mengarahkannya dengan cara mendaftarkan kursus yang sekiranya bisa mengasah kemampuannya, bakatnya," ungkapnya.
"Karena kami kan belum tentu mampu, di bidang bakat apa, setiap anak-anak kami," imbuhnya.

