Ia tidak meminta piala yang lebih banyak. Tidak pula menuntut anaknya menjadi sesuatu yang sudah ditentukan sejak kecil. Ia hanya ingin Bintan terus melangkah.

“Dari Bintan kecil, semoga nanti sampai menjadi Bintan yang besar di dunia entertain,” katanya bersahaja.

Di usia sebelas tahun, Bintan barangkali belum memahami sepenuhnya apa arti kalimat itu. Yang ia tahu, mungkin hanya panggung, puisi, lagu, dan latihan.

Tetapi pada Senin pagi itu, ketika suara tepuk tangan terdengar di halaman kantor Pemkab Sumenep, ada sesuatu yang sedang dimulai: seorang anak belajar mengenali suaranya sendiri, sementara seorang ibu belajar melepaskan sedikit demi sedikit tangannya dari arah yang selama ini ia berikan.

Bintan masih kecil. Jalannya masih panjang.

Dan untuk sementara, puisi, lagu, sekolah, keluarga, serta sejumlah piala di rumah adalah tanda-tanda kecil bahwa jalan itu telah menemukan arahnya. ***