"Kalau melihat modal awal, harga Rp60.000, Rp65.000 sampai Rp70.000 itu tidak cukup. Minimal pemerintah memberikan kebijakan harga Rp75.000 sampai Rp80.000 per kilogram," katanya.

Menurut dia, harga pada kisaran tersebut dinilai lebih mampu menutup biaya produksi sejak penanaman hingga panen.

"Kalau Rp75.000 sampai Rp80.000, bisa dibilang seimbang dengan modal awal sampai panen," ungkap Syafi.

Ia mencontohkan, petani yang menanam tembakau dalam jumlah tertentu masih harus mengeluarkan biaya besar karena proses panen dapat dilakukan beberapa kali. 

Dengan harga Rp60.000-Rp70.000 per kilogram, sebagian pendapatan petani dinilai habis untuk menutup biaya produksi.

"Harapan saya, pemerintah tahun depan bisa memberikan kebijakan harga minimal Rp75.000. Sebab, daya jual dengan daya beli saat ini belum seimbang," harap Syafi. ***