SUMENEP, DIMADURA–Sebanyak 80 warga di tiga desa di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang terdampak kayu gelondongan menerima kompensasi.

Dalam pemberitaan sebelumnya, tumpahan kayu tersebut terjadi di kawasan pesisir sekitar 400 gelondongan kayu.

Kompensasi itu diberikan pihak kapal TB Yamdena dan TK Lintas Samudera XXIII kepada warga terdampak pada Minggu (4/10/2026).

Sekretaris Kecamatan Dungkek Bambang Edi Hendarto mengatakan, penerima kompensasi terdiri atas 40 pengrajin sabut kelapa dan 40 nelayan yang aktivitasnya terdampak keberadaan kayu gelondongan tersebut.

“Warga yang terdampak kayu gelondongan itu sebanyak 80 orang yang terdiri dari 40 orang pengrajin sabut dan 40 orang nelayan,” kata Bambang, Selasa (6/10/2026).

Nilai kompensasi yang diterima warga tidak sama. Pengrajin sabut kelapa memperoleh Rp1 juta, sedangkan kompensasi bagi nelayan berkisar antara Rp300.000 hingga Rp15 juta, bergantung pada tingkat kerugian yang dialami.

Menurut Bambang, terdapat nelayan yang mendapatkan kompensasi Rp15 juta karena perahunya mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat digunakan kembali.

“Ada nelayan yang menerima kompensasi Rp15 juta karena perahunya rusak parah dan tidak bisa dipakai lagi. Itu nelayan di Desa Dungkek,” ujarnya.

Meski kompensasi telah disalurkan, persoalan di lapangan belum sepenuhnya selesai.

Ratusan kayu gelondongan yang sebelumnya berserakan di pesisir Desa Dungkek, Bicabbi, dan Rombeng Guna sejak 20 September 2026 itu hingga kini masih berada di lokasi.

Bambang menjelaskan, pihak yang memberikan kompensasi kepada warga terdampak adalah pihak kapal, bukan pemilik maupun pembeli kayu gelondongan.

“Yang bertanggung jawab mengganti kerugian atau memberikan kompensasi itu pihak kapal yakni TB Yamdena dan TK Lintas Samudera XXIII,” jelasnya.

Sementara itu, proses evakuasi kayu masih menunggu kondisi cuaca memungkinkan. Berdasarkan hasil koordinasi, pihak kapal telah mengontrak Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Probolinggo untuk melakukan proses pengangkutan.

Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena kondisi cuaca dan keterbatasan peralatan.

“Karena cuaca tidak memungkinkan dan alat TKBM Probolinggo tidak dibawa semua, akhirnya tidak jadi dievakuasi. Ini masih menunggu cuaca membaik untuk mengevakuasi,” ujar Bambang.

Selain faktor cuaca, kondisi pesisir yang dipenuhi karang juga menjadi kendala dalam proses pengangkutan kayu.

Dengan demikian, pemberian kompensasi kepada warga baru menyelesaikan sebagian persoalan.

"Ratusan kayu gelondongan masih menunggu untuk dievakuasi dari pesisir tiga desa, sementara proses penanganannya masih bergantung pada kondisi cuaca dan kesiapan peralatan di lapangan," tutur Bambang. ***