Percakapan kemudian mengarah pada pernyataan yang memunculkan tanda tanya. Ketika awak media kembali menggali keterangannya mengenai RS BHC, pihaknya mengaitkan pertanyaan tersebut dengan nama Said Abdullah.
“Kenapa nanyak ke saya soal BHC, nanti saya dimarahi Pak Said,” ucapnya.
Pernyataan itu belum disertai penjelasan lebih lanjut mengenai alasan Zainal menyebut nama Said Abdullah ataupun kaitannya dengan persoalan RS BHC.
Di sisi lain, kabar mengenai adanya perdamaian antara keluarga Dani dan pihak rumah sakit justru dibantah keluarga.
Mereka menegaskan belum pernah menyepakati penyelesaian damai. Hal yang masih mereka tuntut adalah penjelasan medis mengenai penyebab kematian Dani.
Dani meninggal dunia pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kepergiannya menyisakan sejumlah pertanyaan bagi keluarga, terutama mengenai penanganan medis sebelum pasien mengembuskan napas terakhir.
Keluarga menyebut kondisi Dani sempat menunjukkan perkembangan positif selama menjalani perawatan. Namun, pada pagi hari menjelang kematiannya, kondisi pasien disebut mengalami perubahan setelah mendapatkan suntikan dan kemudian muntah.
Sepupu almarhum berinisial Y mengatakan, ayah Dani tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun untuk menjalin komunikasi dengan pihak rumah sakit guna menyepakati perdamaian.
“Kalau Bapak Mahmudi mengambil inisiatif untuk menjadi penengah, mungkin iya. Paman saya sampai sekarang tidak mengutus siapa pun untuk komunikasi ke sana. Kalaupun ada yang kami utus bertemu pihak RS BHC, itu semata-mata untuk mendapat penjelasan secara medis terkait kematian Dani,” jelas Y.
Menurut Y, keluarga tidak pernah menerima penjelasan medis secara menyeluruh dari manajemen RS BHC.

