SUMENEP, DIMADURA–Persatuan ant perguruan pencak silat menjadi pesan utama dalam Ghatering Akbar, Sarasehan Kebudayaan Pencak Silat dan Pengesahan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti Cabang Sumenep. 

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Adiwiyata MAN Sumenep, Jalan KH Agus Salim Nomor 19, Pangarangan, Sabtu (7/11/2026), itu mendapat apresiasi dari jajaran pengurus pencak silat.

Ketua Umum IKSPI, Bambang Sunarja menyebutkan inisiatif IKSPI Sumenep menggelar sarasehan kebudayaan dan mempertemukan berbagai perguruan silat sebagai langkah positif dalam membangun persaudaraan.

Bambang berharap kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi cabang IKSPI di daerah lain maupun perguruan silat lainnya.

Ia juga menyinggung perjalanan IKSPI di Sumenep yang mulai dirintis sejak 1992 dan berkembang pada 1994. 

Sejak saat itu, organisasi tersebut terus memperluas keberadaannya. Bahkan, kepengurusan IKSPI disebut telah menjangkau hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Sumenep.

Meski demikian, Bambang mengingatkan para anggota agar tidak hanya membesarkan organisasi, tetapi juga membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar.

“Jadikan pendekar yang dicintai dan mencintai masyarakat,” pesannya.

Foto: Ketua Cabang IKSPI Kera Sakti Sumenep, Rahmad Taufiq (kiri tengah) dan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Sumenep, Santoso (kanan tengah). (As/dimadura).

Apresiasi serupa jaga disampaikan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumenep, Santoso, ia menilai kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa hubungan ant perguruan silat di Kabupaten Sumenep dapat terjalin secara harmonis.

Menurut dia, ruang silaturahmi seperti itu penting untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga situasi daerah tetap aman dan kondusif.

“Kami memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kegiatan ini,” kata Santoso.

Ia mengatakan, komunikasi dan kebersamaan ant perguruan selama ini turut memberikan dampak positif bagi perkembangan pencak silat. 

Hal itu terlihat dari semakin banyaknya lembaga pendidikan formal maupun pondok pesantren yang mengembangkan kegiatan pencak silat.

Kondisi tersebut, menurut Santoso, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepercayaan terhadap keberadaan perguruan silat.

Namun, ia mengingatkan agar seluruh perguruan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. 

Setiap organisasi perlu membuktikan komitmen persatuan melalui sikap dan perilaku anggotanya di tengah masyarakat.

“Jaga persatuan dan perdamaian. Jika perguruan mampu menunjukkan hal itu, masyarakat akan memberikan simpati dengan sendirinya,” ujarnya.

Santoso juga mendorong IKSPI Sumenep untuk mempersiapkan anggotanya mengikuti agenda pembinaan dan penjaringan atlet yang diselenggarakan IPSI. 

Ia menilai, banyaknya anggota perguruan dari kalangan muda menjadi potensi yang dapat dikembangkan untuk memperkuat prestasi pencak silat daerah.

IPSI Sumenep, kata dia, secara rutin menggelar kompetisi sebagai wadah pencarian atlet sekaligus mempererat hubungan antarpesilat.

“Setiap tahun kami mengadakan kompetisi untuk menjaring atlet sebagai sarana silaturahmi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Cabang IKSPI Sumenep, Rahmad Taufiq, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk mempererat persahabatan dan persatuan ant perguruan pencak silat di Kabupaten Sumenep.

Menurut dia, sarasehan sekaligus silaturahmi itu menjadi langkah awal IKSPI Sumenep untuk membuka ruang pertemuan yang lebih luas antarpesilat.

"Harapan kami kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda satu kali, melainkan dapat menjadi tradisi bersama dalam merawat kerukunan dan memperkuat hubungan ant perguruan di Sumenep," ucapnya. ***