SASTRA, DIMADURA - Empat (4) contoh puisi khas Tiongkok kuno di bawah ini berhasil menyulam alam dan perasaan dalam kesederhanaan yang menyentuh. Setiap bait adalah pantulan batin yang peka terhadap perubahan musim, keindahan alam, dan kerinduan yang dalam.

Melalui kelembutan metafora, pembaca diajak memasuki dunia sunyi di mana angin malam, kabut, daun bambu, dan sungai bicara dalam senandung rindu.

Berikut empat puisi yang mengembalikan kita pada ketenangan dan kedalaman tersebut, di mana alam menjadi cerminan hati dan jiwa yang sedang dilanda rindu.

---

Di Balik Kabut Ijen

Awan membelai puncak gunung, di antara senja dan embun pagi. Sungai berbisik dalam alir tenang, membawakan cerita tua yang rentan.

Burung-burung terbang menghilang, di balik bayang pepohonan cendana, seperti kenangan yang memudar dalam kabut musim yang terus berganti.

Kelembutan angin membawa harumnya, daun-daun gugur, terempas pasrah— seolah-olah rinduku padamu, yang menari di antara ranting waktu.

Langit merekah, langit menutup, menyembunyikan langkah-langkah sunyi. Mungkin suatu hari nanti, kita akan bertemu, dalam bayangan yang abadi, di tepian surga.

---