Skip to content
Selasa, 21 April 2026
News
Begini Kata Kabag Perekonomian Setdakab Sumenep soal Penggunaan LPG Subsidi Bagi ASN Kata KPK Mayoritas Koruptor Pria Gunakan Uang Korupsi untuk Selingkuhan PWI Pamekasan Kupas Etika dan Tiga Pilar Jurnalisme di Tengah Gempuran Medsos RSUD Sumenep Hadirkan Layanan Antar Obat Langsung ke Rumah RSUD Sumenep Percepat Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan Tahun 2026
MENU
Hubungi Kami
dimaduradimadura
  • Beranda
  • Tomang
  • Okara
  • Sakèthèng
  • Pangkèng
  • Ghârḍu
  • Congkop
  • Roma
  • Lapak
  • Bubungan
  • Lèbur

Kategori

  • Advertorial
  • Artis
  • Asta
  • Bangkalan
  • Bisnis
  • Bubungan
  • Budaya
  • Buku
  • Carèta
  • Cerpen
  • Congkop
  • Desa
  • Doa
  • Editorial
  • Elektro
  • Esai
  • Fakta Unik
  • Fashion
  • Film
  • Gaguridan
  • Gancaran
  • Gardu
  • Headline
  • Kisah Mistis
  • Kolom
  • Komunitas
  • Konten
  • Kosa Kata
  • Kuliner
  • Lapak
  • Legenda
  • Lembaga
  • Lirik Lagu
  • Manca
  • Materi
  • Nasional
  • Obituari
  • Okara
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pamekasan
  • Pamekasan
  • Pangkèng
  • Pangraja
  • Paramasastra
  • Profil
  • Rental
  • Roma
  • Saketheng
  • Sampang
  • Sastra
  • Sejarah
  • Situs
  • Sumenep
  • Tapalkuda
  • Tareka
  • Tecno
  • Tokoh
  • Tomang
  • Wawancara
  • Wisata
dimaduradimadura
  • Tomang
    • Sumenep
    • Pamekasan
    • Sampang
    • Bangkalan
    • Tapalkuda
    • Editorial
    • Advertorial
    • Nasional
    • Manca
  • Sakèthèng
    • Tareka
    • Soal
    • Doa
    • Buku
    • Materi
  • Pangkèng
    • Sastra
    • Kosa Kata
    • Paramasastra
  • Okara
    • Ghâghuridhân
    • Gancaran
    • Esai
    • Kolom
    • Cerpen
    • Carèta
    • Legenda
  • Ghârḍu
    • Sejarah
    • Wisata
    • Budaya
  • Congkop
    • Profil
    • Tokoh
    • Obituari
    • Situs
    • Asta
    • Pangrajâ
  • Roma
    • Desa
    • Komunitas
    • Lembaga
    • Organisasi
  • Ḍâpor
    • Kuliner
    • Bârung
  • Konten
    • Tecno
    • Elektro
    • Film
    • Otomotif
  • Bubungan
    • Kisah Mistis
    • Fakta Unik
Beranda Okara Esai Bantuan Pemkab Sumenep untuk 48 PEKKA: Solusi atau Beban Baru?

Bantuan Pemkab Sumenep untuk 48 PEKKA: Solusi atau Beban Baru?

Oleh dimadura - 9 Juli 2024, 16:06
Bagikan:
Foto ilustrasi perempuan kepala keluarga atau PEKKA, sepulang mengarit rumput di ladang (Foto: Mazdon/dimadura.id)

Oleh: Mazdon


Logo Dimadura.idPemerintah Kabupaten Sumenep baru saja memberikan bantuan alat usaha kepada 48 ibu-ibu yang diistilahkan dengan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) di aula kantor BAPPEDA setempat, Selasa (9/7/2024).

Bantuan berupa alat usaha yang disesuaikan dengan jenis usaha masing-masing PEKKA tersebut adalah hasil kolaborasi antara BPRS Bhakti Sumekar, LKKNU, NU dan Pemkab Sumenep.

Di sini, penulis tertarik untuk melihat lebih jauh makna istilah “Perempuan Kepala Keluarga” atau PEKKA yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep.

“

Istilah ini patut diapresiasi sebagai sebuah pengakuan atas realitas sosial yang ada. Tapi di sisi lain, kita juga harus melihat lebih dalam dan mengkritisi beberapa aspek dari program ini, serta dampaknya terhadap struktur sosial dan peran gender di masyarakat.

Baca Juga:

Foto: Ilustrasi. Sejarah Hari Perempuan Internasional Dimulai Di Amerika Serikat. (Istimewa/Doc. Dimadura).

Merayakan dengan Keberanian: Refleksi Hari Perempuan 2026 dari Ruang Gerak KOPRI

“

Secara tradisional, kepala keluarga biasanya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga. Namun, kenyataan hari ini menunjukkan banyak perempuan yang harus mengambil peran ini karena berbagai alasan, seperti kematian pasangan, perceraian, atau karena pasangan tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Mengangkat istilah PEKKA berarti mengakui peran penting perempuan dalam keluarga, tetapi ini juga mengungkapkan kegagalan sistemik yang lebih besar: ketidakmampuan struktur sosial dan ekonomi untuk mendukung semua anggota masyarakat secara merata.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, melalui Baznas dan kerja sama dengan berbagai lembaga lainnya, telah memberikan bantuan usaha kepada PEKKA dalam bentuk alat-alat seperti kompor gas, blender, dan mesin penyegel gelas plastik. Bantuan ini tentu membantu, namun ada beberapa hal yang perlu dikritisi.

“

Apakah bantuan alat usaha ini cukup untuk benar-benar mengubah nasib para perempuan kepala keluarga?

“

Bantuan alat usaha hanya menyentuh permukaan masalah. Banyak PEKKA menghadapi tantangan yang lebih mendalam, seperti akses terbatas ke pendidikan dan pelatihan yang memadai, diskriminasi gender di tempat kerja, dan kurangnya jaringan dukungan yang kuat. Tanpa menyelesaikan masalah-masalah mendasar ini, bantuan yang diberikan hanya menjadi solusi sementara yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, program ini juga harus diiringi dengan upaya yang lebih serius untuk mengubah pandangan masyarakat tentang peran gender. Selama perempuan masih dilihat sebagai pihak yang seharusnya berada di ranah domestik, setiap upaya pemberdayaan akan selalu berhadapan dengan resistensi sosial. Ini memerlukan perubahan paradigma yang lebih luas dan mendalam, melalui pendidikan dan kampanye kesadaran publik.


BACA JUGA

Zayn Al-Fatah Bersama Mama Dan Papa

Zayn Al-Fatah, Kilau Kami: Mama dan Papa


Dalam konteks ini, penting untuk mengkritisi apakah program-program semacam ini benar-benar berfokus pada pemberdayaan jangka panjang atau hanya merupakan langkah politis yang bersifat sementara. Pemerintah sering kali meluncurkan program-program bantuan sebagai bagian dari agenda politik, yang tujuannya lebih untuk meraih simpati dan dukungan publik daripada benar-benar memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Lebih jauh lagi, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran, angka-angka ini masih tinggi.

Foto Ibu-Ibu Pekka Berjualan Di Pasar Mencari Nafkah (Foto: Mazdon/Dimadura.id)
Foto ibu-ibu pekka berjualan di pasar mencari nafkah (foto: mazdon/dimadura. Id)

Penurunan yang terjadi tidak signifikan dan menunjukkan bahwa ada masalah struktural yang lebih dalam yang belum terselesaikan. Program bantuan alat usaha harus dilihat sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk memberantas kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan, bukan sebagai solusi tunggal.

Salah satu langkah penting yang bisa diambil adalah dengan meningkatkan keterbukaan informasi terkait data perempuan kepala keluarga, serta perempuan yang bekerja dan tidak bekerja di Kabupaten Sumenep.


BACA JUGA: Èmot ḍâ’ Jhâman Lambâ’, Ka’ḍinto 13 Conto Kèjhung Èn-maènan Bhâsa Madhurâ


Data tersebut seharusnya bisa didapatkan melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), sebagaimana lumrah diterakan dalam status di KTP. Dengan data yang akurat dan transparan, pemerintah dapat merancang program yang lebih tepat sasaran dan efektif.

Selain itu, keterbukaan informasi ini juga akan memungkinkan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat untuk ikut serta dalam pemantauan dan evaluasi program, memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Selain itu, ada juga risiko bahwa program seperti ini bisa memperkuat stereotip gender yang ada. Dengan memberikan bantuan khusus kepada PEKKA, bisa saja timbul pandangan bahwa perempuan yang menjadi kepala keluarga adalah pengecualian, bukan norma yang bisa diterima. Ini bisa memperkuat pandangan bahwa perempuan harus selalu menjadi pihak yang membutuhkan bantuan, bukan yang bisa mandiri dan kuat tanpa harus menunggu bantuan dari luar.

Kesimpulan sementara, istilah “Perempuan Kepala Keluarga” dan program bantuan usaha dari Pemkab Sumenep menunjukkan pengakuan terhadap realitas sosial yang ada, kita harus lebih kritis melihat efektivitas dan implikasi jangka panjang dari program ini.

Perlu ada pendekatan yang lebih holistik dan strategis untuk benar-benar memberdayakan perempuan kepala keluarga, yang melibatkan perubahan sosial yang mendalam dan berkelanjutan.

Dengan dukungan data yang akurat dan keterbukaan informasi, kita dapat memastikan program ini lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Tanpa itu, program semacam ini berisiko menjadi hanya solusi sementara yang tidak menyelesaikan masalah mendasar yang dihadapi oleh PEKKA.***

Post Views: 214

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Bantuan Alat UsahaBaznas SumenepBPRS Bhakti SumekarLKKNUPEKKAPemkab SumenepPerempuan Kepala Keluarga
Komentar
Bagikan:
Sebelumnya

Zayn Al-Fatah, Kilau Kami: Mama dan Papa

Selanjutnya

Kronologi Kasus Rudapaksa Anak 14 Tahun di Sumenep

Artikel Terkait

Tellasan ghi' Jhâman Kona, salènan ḍâri serradhânnèpon Radhin Abdurrahman Sastrasubrata ḍâlem Aksara Carakan (Gambar: Arsip Dimadura)

Tellasan Ghi’ Jhâman Kona

SOAL KASUS JAMBRET JOGJA

Foto: Noris Sabit Presiden Fakta Foundation bersama 3 Besar Calon Sekda Sumenep 2026, (Ari/Doc. Dimadura).

Membaca Rekam Jejak 3 Besar Calon Sekda Sumenep 2026

OKARA

Foto: ILUSTRASI. Sejarah Hari Perempuan Internasional dimulai di Amerika Serikat. (Istimewa/Doc. Dimadura).
Okara

Merayakan dengan Keberanian: Refleksi Hari Perempuan 2026 dari Ruang Gerak KOPRI

Foto: Noris Sabit Presiden Fakta Foundation bersama 3 Besar Calon Sekda Sumenep 2026, (Ari/Doc. Dimadura).
Kolom

Membaca Rekam Jejak 3 Besar Calon Sekda Sumenep 2026

Merawat "Akar" Simpul Maiyah Damar Ate Sumenep
Komunitas

Merawat “Akar” Simpul Damar Ate

Surga Pembangunan dan Lingkungan yang Terabaikan
Kolom

Surga Pembangunan dan Lingkungan yang Terabaikan

Kolom

SOAL KASUS JAMBRET JOGJA

SAKÈTHÈNG

Download PDF: Bersyukur dengan Akikah, Peduli Sesama dengan Berkurban

Materi 10 November 2025
Cover 3 Buku Sejarah Madura dan Pesantren

Tiga Buku Ini Merekam Peran Sentral Madura dalam Sejarah dan Pesantren

Buku 19 Oktober 2025
Download PDF Materi PAI Kelas 9 Semester I SMP/Sederajat: Meyakini Hari Akhir

Download PDF Materi PAI Kelas 9 Semester I SMP/Sederajat: Meyakini Hari Akhir

Materi 22 September 2025
Momen Foto Bersama Pernikahan di Desa Totosan, Batang-Batang, Sumenep

Musim Nikah, Ini Teks Contoh MC Pernikahan Bahasa Madura

Tareka 14 September 2025

PANGKÈNG

Penyair Sumenep Sugat Ibnu Gazali Sang "Pegulat Puisi"
Sastra

Puisi Puisi Sugat Ibnu Gazali

Ilustrasi penyair MH Efendi dengan kutipan sajak reflektif tentang perjuangan hidup dan kesunyian manusia
Sastra

Sajak MH Efendi

Sastra

Membaca Puisi “Rajâ Atè” karya Liwail Amri

Gaguridan

Rajâ Atè: Refleksi Akhir Tahun 2025

Puisi-puisi Rifky Raya: Tentang Leluhur, Modernitas, dan Kota yang Retak
Pangkèng

Puisi-puisi Rifky Raya: Tentang Leluhur, Modernitas, dan Kota yang Retak

ADVERTORIAL
ADVERTORIAL
Launching Kantor PBH Jatim
previous arrow
next arrow

DIMADURA.ID | Ruang bagi orang Madura membaca, menulis, dan bersuara dalam bahasa, budaya, dan kearifan sendiri.

Jalan Raya Gapura, Ds. Buddagan Bangkal No. 41,
Kec. Kota, Sumenep, Madura, Indonesia
Contact: 082333811209

Email: redaksi@dimadura.id atau dimadura99@gmail.com

INFORMASI

  • Kebijakan Privasi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Tarif Kerjasama
Copyright @dimadura.id 2021

Konten Iklan

Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!