dimadura
Beranda Gardu Filosofi Ketupat Madura, Simbol Hubungan Manusia dengan Alam dan Tuhan

Filosofi Ketupat Madura, Simbol Hubungan Manusia dengan Alam dan Tuhan

Filosofi Ketupat Madura, Simbol Hubungan Manusia dengan Alam dan Tuhan (Ilustrasi/Istimewa)

Jenis topa’ ini juga menjadi simbol keharmonisan bagi calon pengantin di Madura. Topa’ lobar kerap dipakai seorang laki-laki saat hendak meminang si perempuan.

Dari pihak keluarga laki-laki membawa topa’ dan hal perlengkapan lainnya untuk dihaturkan kepada keluarga si perempuan. Topa’ atau ketupat tersebut lalu dibiarkan saja selama proses pertunangan berjalan.

Jika di tengah-tengah perjalanan mereka gagal, pihak perempuan akan membelah ketupat tersebut sebagai tanda gagalnya pertunangan sebab menandakan ketidakharmonisan.

Fisik ketupat

Fisik ketupat oleh orang Sumenep di Madura disebut dengan istilah orong, orongnga topa’. Daun kelapa muda atau daun siwalan yang akan dirajut menjadi ketupat itulah orong. Orang Madura secara umum mengartikan orong ketupat sebagai dimensi fisik atau raga manusia.

Ketika direbus, maka orong itu akan layu, berubah warna kekuning-kuningan dan menjadi tidak menarik. Ini mengajarkan kepada manusia agar melihat sesuatu tidak dari sisi luar atau penampilannya semata. Di dalam orong ketupat terdapat èssè (isi) yang bisa dinikmati menjadi kebahagiaan bersama.

Di mana-mana, ketupat pasti diisi dengan bherrâs (beras) yang telah melewati proses pencucian. Bherrâs dalam kèrata bhâsa Madhurâ berarti sombherrâ orèng bârâs (sumber kewarasan).

BACA JUGA: Filosofi Pèrèt Kanḍung, Sebuah Tradisi Upacara Adat di Madura

Anyaman ketupat

Anyaman ketupat yang bersifat rapat dapat dimaknai dengan eratnya persaudaraan yang ditandai dengan kuatnya tradisi silaturrahmi masyarakat Muslim di Madura hingga kini.

Halaman: 1 2 3 4

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan