KAMPUS, DIMADURAKKN UA Posko 04 di PP Manarul Huda, Panggung, Desa Pakamban Daya, Kecamatan Pragaan, Sumenep, menggagas Bank Sampah sebagai kelanjutan program Eco Generation, atau Pembiasaan Cinta Lingkungan. Program ini mengajak santri mengenal pengelolaan sampah sekaligus melihat potensi ekonominya.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang ditemukan mahasiswa selama melakukan observasi di lingkungan pesantren. Edukasi tentang sampah masih perlu diperkuat, sementara sarana pengelolaannya juga terbatas.

Bank Sampah kemudian dihadirkan sebagai ruang praktik. Selain diajak memahami pentingnya kebersihan, santri juga dibiasakan memilah sampah berdasarkan jenisnya dan mengumpulkan sampah yang memiliki nilai ekonomis.

Koordinator KKN UA Posko 04, Asri Wulandari, mengatakan Bank Sampah merupakan bagian dari rangkaian program yang saling terhubung.

Eco Generation adalah langkah awal untuk menanamkan kesadaran lingkungan pada santri. Bank Sampah ini adalah bentuk konkret dari kesadaran itu, agar apa yang telah disosialisasikan tidak berhenti pada teori saja,” jelas Wulan, Sabtu (19/9).

Sebelum Bank Sampah dibangun, kata dia, mahasiswa lebih dulu melakukan observasi dan pemetaan kebersihan pesantren. Tahap berikutnya berupa sosialisasi pemilahan sampah, pembuatan media edukasi, serta penyediaan tempat sampah terpilah di ruang kelas.

"Santri juga mendapat simulasi dan pelatihan agar mampu membedakan sampah organik dan anorganik," katanya.

Edukasi itu kemudian diperkuat melalui Eco Challenge, lomba kebersihan dan keindahan antarkelas di lingkungan TK dan MDT Manarul Huda.

Program berlanjut dengan penyediaan tempat sampah terpilah organik dan anorganik di ruang kelas TK/TPA dan MDT PP Manarul Huda.

"Pembiasaan tersebut diharapkan membuat kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sejak usia dini," ujarnya menambahkan.

Masyarakat sekitar turut terlibat dalam proses persiapan hingga peresmian Bank Sampah. Partisipasi itu menurutnya cukup menjadi modal penting agar program tidak berhenti ketika masa pengabdian mahasiswa selesai.

Selain sampah bernilai ekonomis, KKN Posko 04 juga menyediakan tempat pembakaran khusus untuk sampah residu.

Langkah tersebut melengkapi sistem pengelolaan sampah yang dibangun selama KKN berlangsung pada 24 Agustus hingga 22 September 2026.

"Bank Sampah dalam program ini memiliki dua pesan sekaligus, menjaga lingkungan dan mengenalkan nilai ekonomi dari sampah," urainya.

Menurut Wulan, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan yang sangat sederhana, yakni memilah sebelum membuang. Bagi pesantren dan masyarakat, sambung dia, kebiasaan itu dapat berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata.

Pada akhirnya, program edukasi berupa Eco Generation ini menjadi upaya menanamkan cara pandang bahwa lingkungan adalah tanggung jawab bersama, "sementara sampah yang dikelola dengan baik dapat berubah dari persoalan menjadi sumber manfaat," timpalnya.

Dari lingkungan pesantren, kebiasaan kecil ini diharapkan terus tumbuh. "Sebab perubahan lingkungan tidak selalu membutuhkan gerakan besar. Kadang, ia bermula dari satu tempat sampah, satu kebiasaan memilah, lalu dilakukan bersama-sama," pungkas Koordinator KKN UA Posko 04, Asri Wulandari. ***