KOLOM, DIMADURA–Ada orang yang mengira hidup ini soal siapa paling manis. Padahal lebah pun tahu, madu tidak lahir dari mulut yang pandai berkata manis, melainkan dari bunga yang rela didatangi berkali-kali.

Madu-madu ara-ara, Madura.

Di tanah yang keras, orang belajar satu hal. Jangan terlalu percaya kepada rasa manis. Sebab yang manis bisa jadi madu, bisa pula gula yang sengaja ditaburkan di atas luka agar sakitnya tampak seperti hidangan.

Ara-ara, lapang.

Lapang bukan berarti kosong. Kadang justru terlalu penuh oleh jejak orang-orang yang datang, berjanji, lalu pergi sambil membawa pulang nama baik kita sebagai oleh-oleh.

Madura juga begitu. Keras di tanah, keras di lidah, tetapi tidak selalu keras di hati. Yang sering keras justru tafsir orang luar terhadap apa yang tidak mereka pahami.

Lucunya, manusia sering sibuk mencari madu pada sarang orang lain, sementara tangannya sendiri sibuk mengaduk-ngaduk gula di gelasnya.

Katanya persaudaraan. Katanya kebersamaan. Katanya demi marwah. Tetapi ketika kepentingan datang mengetuk pintu, persaudaraan mendadak menjadi persyaratan administratif. Harus ada tanda tangan, posisi, jabatan, dan keuntungan.

Di situ, bahasa sering kehilangan makna. Kawan menjadi kubu. Saudara menjadi massa. Musyawarah menjadi panggung. Dan kebenaran, kadang cuma menjadi properti dekorasi.

Maka jangan heran jika orang yang paling rajin bicara tentang persatuan justru paling piawai membelah halaman menjadi dua: kami dan mereka.