Padahal ara-ara itu luas. Cukup luas untuk kita duduk bersama tanpa harus bertanya, “Kamu pihak siapa?”
Barangkali pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah semua ini selesai, kita masih mau menjadi manusia yang bagaimana?”
Madura mengajarkan kerasnya karang, tetapi juga hangatnya kopi di beranda. Mengajarkan bahwa harga diri tidak selalu harus diteriakkan. Kadang ia justru tampak dari kemampuan seseorang menahan lidahnya ketika ia punya seribu alasan untuk menyakiti.
Sebab lidah adalah pisau yang aneh. Ia tidak meninggalkan darah di lantai, tetapi bisa meninggalkan luka bertahun-tahun di kepala orang lain.
Di antara madu, ara-ara, serta segala perdebatan manusia, mungkin kita perlu bertanya, “Apa gunanya menang dalam pertengkaran kalau setelah kemenangan itu kita kehilangan semua orang yang dahulu kita sebut saudara?”
Yang manis jangan membuat lupa bahwa lebah punya sengat. Yang keras jangan membuat lupa bahwa batu pun akhirnya terkikis air.
Yang merasa paling benar, sesekali perlu berdiri di tengah ara-ara, memandang cakrawala, lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Jangan-jangan yang selama ini sedang saya bela mati-matian bukan kebenaran, melainkan ego yang kebetulan pandai berbicara?”
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa lama ia bertengkar. Ia dikenang karena apa yang tersisa setelah pertengkaran itu selesai.
Kalau yang tersisa hanya dendam, mungkin sejak awal kita tidak sedang mencari madu. Kita hanya sedang sibuk memelihara sengat.

