dimadura
Beranda Okara Gaguridan Ngaji Puisi Bahasa Madura: Dhadha Se Eporak

Ngaji Puisi Bahasa Madura: Dhadha Se Eporak

Uwais & Ghaist, Saat Ngaji Puisi Bahasa Madura di Pusara Sayyid Jemur Buju’ Bagung, Rabu 9 Juli 2024 (Foto: Sc.video on Youtube Rumah Tangga Puisi)

Bait Kesembilan:


Dhadhana pasera se paggun jekjek / Ta’ agalimbang sanajjan nyaba tarowanna / Dhadhana pasera se paggun atoles: / In lam yakun bika alayya ghadobun / Fala Ubali! Fala Ubali! Fala Ubali!

Bait yang menegaskan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan meskipun menghadapi ancaman kematian. “Paggun jekjek” berarti tetap tegak, dan “ta’ agalimbang” menunjukkan ketidakgoyahan.

Kalimat dalam bahasa Arab “In lam yakun bika alayya ghadobun / Fala Ubali” yang berarti “Asal engkau tidak berduka atas hamba, Gusti, maka hamba tidak akan peduli atas kesengsaraan apapun,” adalah sebuah pernyataan iman yang luar biasa.

Ketulusan hati dalam mengabdi kepada Tuhan, bahwa selama Tuhan tidak marah atau kecewa, segala penderitaan di dunia ini tidak berarti apa-apa. Ini adalah puncak dari spiritualitas dan keikhlasan dalam beriman.

Bait Kesepuluh:


Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba, rassa ta’ tega dha’ nasib abdina sadaja? / Dhadhana pasera se daddiya tamba / naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha? / dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerrongnga katembang dhadha se paleng pornama / nyengkap pettengnga ate / Sareng alam dunnya.

Bait terakhir ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang kasih yang paling sejati dan universal.

“Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba” menggambarkan dada yang paling penuh dengan rasa kasih, sebuah kasih yang tidak bisa dipisahkan dari nasib semua hamba.

Lukisan tentang kasih yang bersifat inklusif, mencakup semua manusia tanpa kecuali. Tirta mengajukan pertanyaan tentang nasib kita sebagai hamba, menunjukkan bahwa kasih sejati tidak bisa abai terhadap penderitaan orang lain.

“Dhadhana pasera se daddiya tamba / naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha” menggambarkan dada yang menjadi obat penawar ketika dunia terasa menyesakkan–menunjukkan kemampuan hati untuk menyembuhkan dan memberi harapan di tengah kesulitan. Dada adalah simbol dari sumber kekuatan yang mampu mengatasi kegelapan hati dan dunia.

“Dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerronga katembhang dada se paleng pornama / nyengkap pettengnga ate” menggambarkan dada yang penuh dengan kerinduan purba, lebih tua dari dada yang paling bersinar seperti bulan purnama.

Dialah dada yang mampu menyingkap kegelapan hati, memberikan pencerahan dan makna dalam hidup kita. Dada itu tidak hanya mempengaruhi individu tetapi juga alam dunia, menunjukkan kekuatan transformatif dari kasih dan ketabahan spiritual.

Sementara Kesimpulan

Puisi “Dhadha se Eporak” karya Khalil Tirta adalah sebuah karya sastra yang menggugah dan mendalam. Melalui setiap baitnya, Tirta mengajak kita untuk merenungkan makna sejati dari ketabahan, kasih, dan keberanian dalam menghadapi cobaan hidup.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan