dimadura
Beranda Okara Gaguridan Ngaji Puisi Bahasa Madura: Dhadha Se Eporak

Ngaji Puisi Bahasa Madura: Dhadha Se Eporak

Uwais & Ghaist, Saat Ngaji Puisi Bahasa Madura di Pusara Sayyid Jemur Buju’ Bagung, Rabu 9 Juli 2024 (Foto: Sc.video on Youtube Rumah Tangga Puisi)


Duh baramma’a kastana epadaddi bato / Se ekoteppagi dha’ salerana sampe’ nyapcap dharana? / Duh baramma’a kastana daddi calatthongnga onta se eyancannagi dha’ salerana e bakto nyemba ka Guste Pangeranna?

Bagian ini menggambarkan sesal dan penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang menyakiti sang kekasih. “Baramma’a kastana” berarti betapa dalamnya penyesalan, dan ini ditunjukkan melalui analogi batu yang dilemparkan hingga meneteskan darah dan kotoran unta yang dilampiaskan pada saat menyembah Tuhan.

Diksi dalam bait ini menyiratkan sebuah representasi dari kebiadaban dan kekejaman manusia yang berlawanan dengan kesucian dan ketulusan hati sang kekasih.

Penyesalan tidak hanya bersifat fisik tetapi juga spiritual, menunjukkan bahwa tindakan kejam tersebut berbalik menghantui pelakunya dengan rasa bersalah yang mendalam.

Bait Kedelapan:


Duh baramma’a bunga tor teggenna epadaddi aeng somor se macco loka-lokana?

Bait ini melanjutkan tema penyesalan dengan bertanya bagaimana mungkin seseorang yang begitu kokoh dan penuh kasih dapat menjadi sumber penyucian dan penyembuhan.

“Aeng somor” yang berarti air sumur, adalah metafora untuk sumber kehidupan dan penyucian. Pertanyaan ini menggambarkan betapa luar biasanya dada sang kekasih yang mampu mengubah penderitaan menjadi sesuatu yang suci dan menyembuhkan.

Sebuah gambaran tentang transformasi spiritual, di mana penderitaan dan kesakitan dapat diubah menjadi sumber kekuatan dan penyucian.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan