Bahkan, penemuan AI ini telah menjadi era baru tentang kecanggihan otak manusia yang melampaui kecanggihan penemuan sebelumnya. AI pada gilirannya menjadi jalan baru yang digunakan dalam semua sektor kehidupan manusia, termasuk sektor media. Sebuah fenomena baru yang tidak bisa dinafikan, karena di balik kecanggihan AI; ada tantangan, ancaman sekaligus harapan positif yang harus dipikirkan secara kritis dan etis.

AI menjadi teknologi baru yang benar-benar cerdas dan mampu mencptakan sistem yang lebih cerdas, efektif dan efisien, termasuk dampak AI dalam dunia jurnalisme. Industri media yang menjadi tempat praktek jurnalisme dilakukan, telah menjadi segmen yang tidak bisa melupakan kecanggihan AI.

Bahkan, pemanfaatan AI telah mampu mengikat jurnalis pada sistem generatif dan teknologi sintetik, karena AI pada gilirannya mampu menciptakan ekosistem teknologi yang mampu mengganti peran-peran teknis jurnalis secara praktis, seperti membuat konten otomatis, membuat berita, melakukan analisis data dalam jumlah yang cukup banyak. Singkat dan cepat. Sistem AI bisa bekerja lebih cepat, melampaui kecepatan kerja-kerja jurnalistik seorang jurnalis itu sendiri.

AI dalam Jurnalisme

AI pada hakikatnya merupakan merupakan cabang dari ilmu komputer yang cukup inovatif, karena IA menjadi ilmu baru dunia komputer yang konsern dengan pengautomasi tingkah laku cerdas. AI adalah produk kecerdasan manusia yang memuncak dan telah mampu mengubah peta jalan kehiduan manusia abad ini dan di abad-abad yang akan datang. Bahkan, prediksi potesnsi AI, di masa depan akan menjadi pengganti manusia dala dalam segala aspeknya. Sebuah riset telah menjelaskan, keberadaan AI mampu meningkatkan efisiensi, hingga mencapai 50 persen dalam penggunaan sumber daya manusia dan waktu.

Di Indonsia sejumlah perusaan media telah meanfaatkan AI sebagai abgian di dalamnya. Dalam kegiatan Indonesia Digital Confrence (IDC) 2024 yang dilaksanakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dipaparkan terdapat 5 media yang sudah memanfaatkan jasa AI dalam proses kerja di ruang redaksi, mulai dari di sisi editorial sampai bisnis yang dilakukan media itu, seperti Detik Network, Kompas Gramedia Media, IDN Media, Suara.Com dan lain sebagainya.

Dalam dunia jurnlisme, tentu saja AI telah membuka ruang “revolusi industri media” yang cukup radikal-inovatif. AI dapat membantu jurnalis menyusun berita, merangkum dokumen, menganalisis data, hingga menghasilkan konten dalam waktu yang lebih singkat. Kehadiran teknologi AI ini tentu membawa peluang besar bagi media untuk bekerja lebih cepat dan efisien.

Kerja-kerja teknis jurnalistik, bisa saja telah mampu diwakilkan oleh si Otak Elektronik ini dengan cepat dan canggih, tetapi tetap akan mampu mengganti posisi jurnalis secara total.  AI tidak akan mampu mengganti posisi kemanusian jurnalis secara utuh sehingga produk-produk jurnalisme yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI bisa saja mereduksi nilai-nilai ideal jurnalisme itu sendiri.

Nilai-Nilai Etis

Jurnalis yang menjadi pelaku dalam dunia jurnalistik, tentu bukan hanya sekadar aktivitas rutin untuk menyampaikan informasi ke ruang publik, juralis juga memiliki tanggung jawab besar untuk tetap menjaga kebenaran, keadilan, dan kepercayaan masyarakat.