EDITORIAL — Kematian Moh. Firman Ramadhani, 22 tahun, alias Dani, di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur, menyisakan persoalan yang kian rumit. Sepekan lebih setelah peristiwa itu, publik belum memperoleh jawaban yang utuh mengenai penanganan medis sebelum pasien meninggal dunia. Sementara itu, upaya pengawasan oleh DPRD, rencana investigasi Dinas Kesehatan, dan pernyataan pemerintah daerah justru menghadirkan pertanyaan baru.
Kasus ini semestinya sederhana dalam prinsipnya. Ketika seorang pasien meninggal dunia setelah mendapatkan suntikan oleh seorang perawat di RS BHC, keluarga berhak memperoleh penjelasan yang memadai, sementara institusi terkait berkewajiban memastikan apakah pelayanan telah berjalan sesuai standar. Namun, dalam kasus Dani, jalan menuju kejelasan justru sungguh berliku.
Ada sejumlah pihak yang mengklaim telah berdamai dengan keluarga. Ada DPRD yang melakukan inspeksi mendadak, tetapi hasilnya belum membuka semua persoalan. Ada Dinas Kesehatan yang masih merencanakan investigasi. Ada pula Bupati yang menjanjikan santunan sekaligus menyebut kemungkinan perdamaian yang belum terkonfirmasi.
Di tengah simpang siur itu, pertanyaan paling mendasar tetap menggantung. Apa sebenarnya yang terjadi terhadap Dani?
Sidak yang menyisakan tanda tanya
Kamis, 22 Oktober 2026, sejumlah wartawan yang sedang dalam perjalanan menuju rumah duka di Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, tapi mendadak mengubah arah. Ketua Komisi IV DPRD Sumenep, Mulyadi, menghubungi salah seorang jurnalis dan menyampaikan bahwa pihaknya sedang menuju RS BHC untuk melakukan inspeksi mendadak.
Alasannya jelas. Pihak rumah sakit disebut telah dipanggil, tetapi tidak datang.
"Terpaksa sekarang kita harus ke RS BHC, mereka dipanggil tidak datang," kata Mulyadi dalam panggilan itu kepada jurnalis MaduraPost, MH Efendi.
Wartawan yang semula hendak melayat akhirnya memutar arah menuju RS BHC. Harapannya, kami bisa menyaksikan proses pengawasan wakil rakyat secara langsung, kemudian memperoleh keterangan tentang apa yang ditemukan di lapangan.
Namun, harapan itu terhenti di pintu masuk.

