Penggunaan AI dalam proses jurnalisme, tidak mustahil, akan menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari risiko penyebaran hoaks, bias algoritma, manipulasi gambar dan video, hingga persoalan transparansi dan perlindungan privasi.
Semua itu, bisa menjadi ancaman yang dapat meruntuhkan idealisme ajaran jurnalisme itu sendiri. AI yang digunakan tanpa nilai-nilai kemanusiaan seorang jurnalis, bisa saja berbalik arah menjadi raksasa teknologi digital yang dapat mengancam kredibilitas dunia jurnalisme.
Berbagai kajian menjelaskan kerja AI tidak akan sepenuhnya benar. AI tidak akan sepenuhnya, menjadi sarana transformasi informasi yang memastikan kebenaran yang totalitas, karena kerja AI juga memiliki keterbatasan. Manusia tetap menjadi filter terakhir dari produk informasi, publikasi dan juralistik yang dilakukan oleh AI.
Berbagai kajian telah menjelaskan tentang itu. Sebuah lembaga di Australia, Centre for Media Transtion University of Technologi, pada tahun 2023 telah melakukan investigasi skala besar terhaap pemnaafatan AI generatif.
Salah satu point temuannya, menyatakan editor menyadari akan adanya kerugian yang cukup menganggu atas penggunaan AI generatif ini tehadap akurasi, keaslian dan bias informasi, apabila tudak dilakukan antisipasi, sehingga transparansi dan peran pengawasan manusia tetap menjadi penting dan penentu dalam menjaga kualitas produk-produk jurnalistik
Produk jurnalistik yang maudhu’ (hoaks) menjadi salah segmen yang dikawatirkan lahir dari kerj-kerja AI ini Kaum jurnalis dihadapkan pada satu problem besar, di satu sisi AI menjadi sarana efektif dalam memangkas kerja-kerja teknis jurnalistik, tetapi di sisi lain, jurnalisme harus mampu diramu dengan dengan tetap berpijak pada kaidah-kidah etis jurnalistik, terutama pada aspek akurasi da integritas informasi yang dihasilkan.
Sebab, tanpa menghadirkan kembali nilai-nilai etis jurnalistik dalam ekosistem industri media, efeknya akan memunculkan penyakir kronis dgital : berita bohong dan plagiarisme yang akan menjadi jalan keruntuhan marwah dunia jurnalisme.
Dalam konteks itu, etika jurnalistik menjadi semakin strategis di tengah arus perkembangan AI yang semakin canggih saat ini. Nilai ideal sebuah berita, seperti akurasi, verifikasi fakta, independensi, keberimbangan, dan tanggung jawab tidak boleh diabaikan dan harus menjadi standar baku dalam meproduksi berita yang super cepat sekalipun. AI tetap diposisikan sebagai “babu teknis” yang bekerja utuk membantu, bukan sebagai pengganti total kerja-kerja jurnalistik seorang jurnalis yang manusiawi. ***
---
*) Mohammad Suhaidi, dikenal juga dengan nama pena Suhaidi RB, Dosen Universitas PGRI Sumenep.

