Bagi Marsiono, kaligrafi memiliki hubungan dengan keyakinan dan dakwah. Ia tidak melihatnya semata sebagai pekerjaan artistik.

“Itu bagi saya semacam syiar juga, Mas,” katanya.

Menurut dia, kesibukan mengejar kehidupan dunia membuat sebagian orang mulai menjauh dari nilai-nilai keagamaan.

“Sekarang saking ambisinya mencari cuan, mengejar cuan, sampai lupa dengan lima waktu dan semacamnya. Kan banyak seperti itu, Mas,” ujarnya.

Karena itu, ia memilih kaligrafi sebagai salah satu cara menyampaikan pesan.

“Syiar untuk apa ya, agar budaya Islam juga tidak hilang di zamannya seperti sekarang,” kata Marsiono.

Makan Ati dan Ruang Regenerasi

Nama Sanggar Makan Ati sendiri memiliki arti khusus. Marsiono menjelaskannya sebagai akronim dari Madura Kandang Aktivitas dan Kreativitas.

Menurut dia, nama tersebut berangkat dari pandangan bahwa masyarakat Madura memiliki kreativitas di berbagai bidang.

“Orang Madura ini kan kreatif dari segi bidang apa saja. Entah dari pekerjaan halus sampai pekerjaan kasar ini. Madura ini terkenal kreatif,” ujarnya.