Sanggar itu terbuka bagi berbagai usia. Anak-anak PAUD hingga mahasiswa dapat belajar di sana. Regenerasi menjadi bagian penting dari aktivitas sanggar.
“Insya Allah setiap bulannya masih tetap ada regenerasi,” katanya.
Marsiono sendiri tidak sekadar menjadi pengurus. Ia tetap berada di tengah anak-anak yang belajar di sanggar. Bahkan, sebagian generasi penerus itu datang dari keluarganya sendiri.
“Termasuk anak saya yang meneruskan. Tapi saya tetap membina juga di sini, dalam artian tidak menjauh dari anak-anak,” tuturnya.
Rutinitas menjadi cara yang ia pilih untuk menjaga keberlangsungan sanggar. Hampir setiap malam ada kegiatan, kecuali malam Jumat dan malam Minggu.
Malam Senin diisi latihan karawitan, malam Selasa campursarian, malam Rabu tari, malam Kamis karawitan, dan malam Sabtu tari.
“Kalau saya pribadi di Sanggar Makan Ati ada event tidak ada event tetap proses,” kata Marsiono.
Menurutnya, latihan tidak boleh menunggu undangan pementasan. Dengan pola itu, ketika ada acara secara mendadak, anak-anak sanggar sudah siap.
“Makanya ketika ada event mendadak, Sanggar Makan Ati selalu siap,” ujarnya.
Pakem yang Tidak Boleh Hilang

