Marsiono juga dikenal sebagai Ketua Ikatan Pelukis Indonesia Cabang Pamekasan dan Ketua Karisma Perupa Pamekasan. Ia aktif sebagai juri sekaligus pembina seni lukis.

Ia mengaku tidak terbiasa mengikuti perlombaan seni lukis untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia lebih sering mengikutsertakan murid-muridnya dalam berbagai kompetisi.

Di tingkat lokal, anak didiknya beberapa kali meraih juara pertama. Di tingkat Jawa Timur juga pernah meraih juara pertama. Sementara di tingkat nasional, ada yang masuk 10 besar.

Di luar lukisan dan kaligrafi, Marsiono juga membuat patung. Karyanya tidak selalu dibuat berdasarkan pesanan. Ia membuatnya sebagai bagian dari aktivitas berkesenian. Jika ada pengunjung sanggar yang tertarik, karya itu bisa dibeli.

“Jarang buka galeri, tidak begitu punya tempat. Cuma dipajang di sanggar ini,” katanya.

Pada September 2026, perjalanan kaligrafinya mendapat ruang di pameran internasional di Semarang. Dua karya yang ia ajukan lolos seleksi dan dipamerkan bersama sekitar 250 karya dari 45 negara.

Marsiono tidak dapat hadir dalam pembukaan karena harus menangani kegiatan di sanggarnya. Namun, dua karyanya tetap mewakili Indonesia dalam pameran tersebut.

Menolak Seni Madura Hilang

Bagi Marsiono, tantangan terbesar bukan sekadar membuat seni tradisional tetap tampil. Yang lebih penting adalah memastikan generasi muda tetap merasa memiliki kebudayaannya.

Ia tidak memusuhi budaya luar. Namun, ia mengingatkan agar masuknya budaya baru tidak membuat budaya sendiri ditinggalkan.