“Saya bukannya tidak senang. Nah, tetapi jangan sampai menghilangkan budaya kita sendiri,” katanya.

Ia meminta anak-anak di Sanggar Makan Ati mengembangkan apa yang sudah diajarkan kepada mereka. Bentuknya boleh berubah, tetapi garis besarnya tidak boleh keluar dari konteks budaya sendiri.

“Bisa dinalarkan sendiri, bisa dikembangkan sendiri. Dalam artian, dalam garis besar kita jangan sampai menyimpang dari konteks budaya kita yang sebenarnya,” ujarnya.

Karena itu, ia memilih jalan eksistensi. Sanggar harus terus bergerak, terus tampil dan terus melatih anak-anak.

“Ya kita harus eksis. Harus eksis dalam mempromosikan budaya kita,” katanya.

Bagi Marsiono, budaya Madura tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus dimainkan, dipentaskan, diajarkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

“Makanya kalau saya pribadi, dengan datangnya budaya luar ke budaya kita, saya selalu menepis. Kalau saya pribadi Mas, saya selalu tepis, malah budaya saya kembangkan agar bisa melebihi dari budaya luar.”

Ia sudah membawa kesenian Sanggar Makan Ati ke sejumlah daerah, seperti Banyuwangi, Jakarta, Bali, Malang dan Batu. Dalam setiap kesempatan, ia memilih membawa budaya Madura.

“Karena kami kan selalu mempromosikan budaya Madura khususnya. Tidak pernah saya itu menampilkan budaya luar. Selalu menampilkan budaya sendiri,” ujarnya.

Ia memberi contoh sederhana ketika sanggar diundang ke Bali.