Sementara ia memilih terus bekerja dari sanggar: melatih, mencipta, mengembangkan dan tampil.
Sebab bagi Marsiono, merawat kebudayaan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu pementasan. Ia adalah rutinitas.
“Kalau cuma pas nunggu ada event baru proses ya tidak mungkin, tidak bisa,” katanya.
Maka Sanggar Makan Ati terus berlatih. Malam demi malam. Anak-anak datang, belajar, memainkan musik, menari, membaca sastra, berteater dan mengenal kembali kebudayaan yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Di situlah Marsiono memilih bertahan, di antara pakem dan perkembangan zaman, antara sanggar dan panggung, serta antara seni sebagai ekspresi dan seni sebagai cara menjaga ingatan kebudayaan Madura. ***

