Marsiono tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Ia justru mengembangkan sejumlah bentuk kesenian tradisional agar lebih mudah diterima generasi muda.

Dalam musik, misalnya, gending-gending Madura dikembangkan dengan sentuhan yang lebih rancak. Ia menyebut pemodelan koplo sebagai salah satu bentuk pengembangan.

Namun, pengembangan itu menurutnya tidak berarti meninggalkan pakem. “Tapi tidak menghilangkan pakem. Pakemnya tetap,” tegasnya.

Bagi Marsiono, pakem adalah identitas. Ia ingin anak-anak muda tetap mengenal akar budaya mereka meski bentuk pertunjukannya berkembang. “Pakem itu harus, kalau bisa dipertahankan,” katanya.

Di Sanggar Makan Ati, kesenian yang dipelajari cukup beragam. Ada karawitan, musik etnik, kolaborasi band dan organ, tari, teater, musikalisasi puisi hingga sastra.

Dalam musikalisasi puisi, Marsiono memilih gamelan sebagai pengiring. Ia mengembalikannya pada tradisi syair yang menurutnya memiliki fungsi sebagai media petuah.

“Kalau anak-anak, saya sendiri kalau diberi petuah-petuah dengan ucapan yang tanpa itu, kebanyakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri,” ujarnya.

Namun ketika petuah itu disampaikan melalui musik, ia melihat kemungkinan pesan tersebut lebih mudah diterima.

“Jadi kalau diiringi musik, insya Allah bisa masuk,” katanya.

Seni sebagai Cara Bertahan