Bukan hanya kehilangan sosok ayah yang harus dihadapi anak-anaknya. Asmaul juga harus mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga.
Selama ini, YS menjadi salah satu penopang kebutuhan rumah tangga. Setelah suaminya menjalani hukuman, Asmaul bekerja serabutan dan menjadi pembantu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penghasilannya tidak selalu cukup untuk menutup kebutuhan makan, susu, biaya perjalanan, dan berbagai keperluan anak.
Kondisi itu membuat Asmaul mengambil keputusan yang tidak mudah. Kedua anaknya untuk sementara dititipkan kepada orang tuanya di kampung halaman mereka di Kabupaten Tuban.
Pilihan tersebut diambil karena Asmaul harus tetap bekerja di Surabaya.
“Saya harus bekerja sendiri untuk kedua anak saya. Kalau tidak saya titipkan di Tuban, bagaimana? Karena ayahnya saat ini berada di tahanan,” katanya.
Orang tua Asmaul yang sudah tidak bekerja pun masih berusaha membantu memenuhi kebutuhan cucu mereka.
Ketika pendapatannya tidak mencukupi, Asmaul terkadang meminta bantuan kepada kakak dan saudara-saudaranya.
Ia juga mendapat bantuan dari orang tempatnya bekerja.
“Kadang bos tempat saya kerja bantu ongkos pulang dan kasih tambahan buat anak. Kalau benar-benar kurang, saya terpaksa minta bantuan ke kakak saya dan saudara-saudara saya,” ujarnya.

