“Jadi ketika dunia jurnalisme berkembang di zaman Reformasi seperti sekarang ini, saya menjadi iri. Jujur saja, menjadi iri”.

___

DIMADURA — Pernyataan itu disampaikan wartawan senior Sumenep, Ibnu Hajar, saat menjadi pembicara Cator Jurnalistik DPC PWRI Sumenep di Kafe Titik Temu, Rabu (30/9/2026).

Dalam forum bertema “Memupuk Kebersamaan, Meningkatkan Kualitas” tersebut, Ibnu membagikan pengalaman perjalanan jurnalistiknya sekaligus mengajak puluhan jurnalis PWRI agar kian memperkuat kualitas pemberitaan serta membangun manajemen media yang berkelanjutan.

Ibnu, yang kini dipercaya sebagai Tenaga Ahli bidang Iptek dan Kebudayaan Bupati Sumenep, membuka paparannya dengan cerita perjalanan panjangnya sebagai jurnalis.

Ia mulai berkecimpung di dunia jurnalistik sejak pertengahan 1991, ketika Orde Baru masih kuat. Kariernya bermula dari pers mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang melalui Tabloid Bestari dan Majalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan bernama Dedaktif.

“Saya lebih dulu berkutat di dunia jurnalistik, bukan berarti saya lebih hebat atau lebih bisa. Hanya karena persoalan waktu,” kata Ibnu.

Menurut dia, generasi wartawan saat ini bekerja dalam situasi yang jauh berbeda. Jika wartawan era Reformasi menikmati keterbukaan dan teknologi digital, generasinya di era Orde Baru, meniti profesi dengan perangkat yang serba terbatas.

"Dunia kita berbeda. Bukan dunia apa yang berbeda, profesi kita sama, tapi kita hidup di zaman yang berbeda," katanya.

Menurut Ibnu, generasi wartawan saat ini hidup dalam era yang sangat terbuka. Bahkan, ia menggambarkan keterbukaan pers sekarang seolah sudah “bablas dengan keterbukaan”, jauh berbeda dengan situasi ketika ia memulai karier jurnalistik.