"Lalu yang sangat lincah di straight news. Ada yang tahu itu kan, berita singkat, 5W1H selesai, itu ada almarhum Pak Deni Abu Said, mantan Ketua PWI. Wah, itu luar biasa. Kemudian ahli features berita radio, Joko Suhardi, wartawan RRI. Mereka guru-guru kami dulu,” sebutnya menambahkan.

Dari 19 Wartawan hingga Ratusan Media

Ibnu juga membandingkan ekosistem media Sumenep pada masanya di era 90-an dengan kondisi sekarang.

Pada zamannya, kata dia, jumlah wartawan Sumenep hanya sekitar 19 orang. Kini jumlah media jauh lebih banyak.

Ia menyebut berdasarkan data yang pernah diterimanya dari Diskominfo Sumenep, jumlah media di daerah tersebut telah mencapai lebih dari 125 dan dalam perkembangan berikutnya sekitar 180-an.

Perubahan itu, menurut Ibnu, menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan perusahaan media.

Ia mencontohkan sejumlah media konvensional yang pernah berjaya tetapi kemudian mengalami penurunan atau berhenti beroperasi.

Radio Nada FM yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya, misalnya, akhirnya tutup karena persoalan bisnis dan iklan. “Tak pernah bermimpi Radio Nada FM itu tutup,” ujarnya.

"Bahkan radio terbaik se-Jawa Timur yang iklannya hampir Rp4,8 miliar per bulan, apa itu? SS, Suara Surabaya, itu turun iklannya. Terakhir kami ketemu dengan Mas Iman, senior, di Surabaya. Hampir turun menjadi 35 persen," imbuhnya mencontohkan.

Kondisi serupa, menurut Ibnu, menunjukkan bahwa keberlangsungan media tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan jurnalistik.