“Jadi ketika dunia jurnalisme berkembang di zaman Reformasi seperti sekarang ini, saya menjadi iri. Jujur saja, menjadi iri,” ucapnya.
Berita, Mesin Ketik, dan Faksimile
Saat menjadi kontributor Republika di Sumenep, Ibnu masih menggunakan tape recorder dengan kaset untuk merekam wawancara. Berita kemudian diketik menggunakan mesin ketik sebelum dikirim melalui faksimile dari kantor Telkom.
Proses pengiriman foto bahkan lebih rumit. Film harus diproses, dicuci, lalu dikirim menggunakan bus menuju Surabaya.
“Jadi kadang, berita kami itu sudah sampai duluan sebelum foto,” kenang dia.
Menurut Ibnu, kondisi tersebut membuat wartawan pada zamannya dituntut bergerak cepat. Persaingan antarmedia juga membuat keterlambatan mendapatkan berita bisa berarti kehilangan kesempatan publikasi.
Ia kemudian berpindah dari media cetak ke radio, antara lain Radio Nada Kemala yang saat itu masih menggunakan frekuensi AM.
Di dunia radio, Ibnu mengaku pernah menjalani sejumlah posisi, mulai reporter, penyiar hingga station manager.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan sejumlah wartawan senior Sumenep yang ia sebut sebagai guru. Di antaranya Zainal Lennon, wartawan Surabaya Post yang dikenal dengan tulisan feature-nya.
"Beliau itu tidak ada tandingannya di Sumenep, di era-era 80-an, 90-an, untuk menulis features," ungkapnya.

