“Sertifikat UKW adalah bukti bahwa kamu diuji. Tapi tulisanmu harus profesional,” tegasnya.

Ia mengaku masih menemukan sejumlah produk jurnalistik media online di Sumenep yang menurut penilaiannya belum memenuhi standar jurnalistik.

Ia menyoroti antara lain lemahnya penerapan unsur 5W+1H, kesamaan isi berita meski judul berbeda, hingga persoalan foto yang tidak sesuai dengan peristiwa.

“Wartawan dikenal karena tulisannya, bukan karena ID card-nya, bukan karena dekat dengan siapa. Wartawan, kalau memang ingin hidup lama, harus punya karya,” katanya.

Karena itu, ia meminta pemimpin redaksi memiliki skala prioritas dalam menentukan berita. Reporter, menurut dia, juga perlu mengetahui news value sebelum turun melakukan peliputan.

Foto dan Detail Kecil

Ibnu juga mengingatkan pentingnya ketepatan foto dalam pemberitaan. Ia mencontohkan berita tentang pelantikan pejabat yang menggunakan foto dari kegiatan berbeda. 

"Bupati Sumenep melantik OPD, Senin pada tanggal sekian, yang tampil adalah foto Bupati pakai batik. Padahal Senin itu kan seragam apa," ungkapnya mencontohkan.

Persoalan semacam itu menurutnya terlihat kecil, tetapi dapat memengaruhi penilaian pembaca terhadap profesionalitas sebuah media.

“Ini hal kecil. Dalam istilah pepatah Arab, shaghirul jirmi adzimul jurmi, kecil bentuknya tetapi besar akibatnya,” tegasnya.