Dua Rumah Media

Ibnu menekankan pentingnya membangun dua unsur yang berjalan beriringan dalam perusahaan media, yakni manajemen media dan manajemen pemberitaan.

“Harus mampu membangun dua rumah di dalam media. Satu rumah namanya manajemen media, satu rumah namanya manajemen berita,” katanya.

Menurut dia, manajemen media berkaitan dengan keberlangsungan perusahaan, mulai dari sumber daya manusia, pemasaran, iklan hingga keuangan. Sementara manajemen pemberitaan berfokus pada kerja redaksi dan kualitas jurnalistik.

Ia mengakui dalam kondisi media lokal, satu orang bisa menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Namun, pembagian fungsi bisnis dan redaksi tetap perlu dibangun agar keduanya berjalan seimbang.

“Bolehlah kalian ini jadi wartawan, jadi pemrednya, jadi CEO-nya. Tidak haram hukumnya. Tapi harus mampu membangun dua rumah,” ujarnya.

Keseimbangan itu, kata Ibnu, menjadi kunci keberlanjutan media. Manajemen yang kuat tanpa pemberitaan berkualitas akan kehilangan kepercayaan pembaca. Sebaliknya, produk jurnalistik yang baik tanpa manajemen yang sehat akan sulit bertahan.

“Dalam dunia komunikasi itu ada istilah balancing power. Ada istilah keseimbangan kekuatan. Lima puluh-lima puluh,” katanya.

Menurut dia, media yang memiliki fondasi kuat akan lebih siap menghadapi perubahan situasi dan iklim bisnis.

“Kalau hanya sekadar begitu, misalnya oke, silakan berjalan. Tapi persoalannya, paling bertahan lima tahun. Ganti rezim, bingung. Ganti suasana, bingung. Tapi kalau ini kuat, dibangun, insyaallah tidak akan goyang,” ujarnya.