SUMENEP, DIMADURA — Santri Pondok Pesantren Annuqayah, Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22), yang meninggal di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep dua pekan lalu, 13 Oktober 2026, masih berupa teka-teki. Hingga Senin (26/10), penyebab pasti kematian belum terungkap, sementara klaim perdamaian yang disampaikan manajemen rumah sakit kepada Komisi IV DPRD Sumenep belum terverifikasi.

Kasus ini turut menyeret nama Nur Mahmudi, Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian Baznas Sumenep, yang disebut sebagai juru bicara keluarga korban. Mahmudi mengaku memiliki hubungan keluarga dekat dengan orang tua Dani dan menyatakan keluarga masih mengalami trauma.

“Keluarga korban hingga saat ini masih trauma,” kata Mahmudi.

Ia menyebut keluarga membatasi komunikasi dengan pihak luar dan menyerahkan penyampaian informasi melalui dirinya. Namun demikian, belum ada keterangan terbuka yang memastikan bentuk kesepakatan perdamaian maupun persetujuan keluarga terhadap penyelesaian yang diklaim rumah sakit.

Ketua Komisi IV DPRD Sumenep, Mulyadi, mengatakan pihaknya masih menunggu penjelasan manajemen BHC mengenai klaim perdamaian yang dijanjikan pada Senin (26/10/2026).

“Intinya RS BHC janji kepada kami Komisi IV DPRD Sumenep bahwa terkait dengan persoalan damai itu, hari ini Senin, 26 Oktober 2026 akan memberikan informasi lebih lanjut,” kata Mulyadi, Senin pagi.

Ia memberi kesempatan hingga Senin sore. Jika tidak ada perkembangan, Komisi IV akan membahas langkah berikutnya.

“Jika misalkan per hari ini pihak RS BHC tidak memberikan update, maka kami akan melakukan rapat di internal komisi, langkah-langkah apa yang harus dilakukan nantinya,” ujarnya.

Menurut Mulyadi, saat Komisi IV melakukan inspeksi mendadak ke BHC pada Kamis (22/10/2026), manajemen menyebut Mahmudi sedang berada di luar kota. Namun, pada hari yang sama, Mahmudi menemui sejumlah wartawan untuk menjelaskan kondisi keluarga korban.

Dinkes Belum Gelar Investigasi

Selain menunggu penjelasan BHC, DPRD Sumenep juga menanti langkah Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) untuk memeriksa kasus tersebut.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Elliya Fardasah, sebelumnya mengatakan pihaknya masih perlu memastikan informasi dengan jajaran internal.

“Sebentar, saya belum bisa berkomentar soal itu ya, mohon maaf. Saya harus memastikan dulu sama teman-teman,” katanya, Selasa (20/10/2026).

Sekretaris Dinkes P2KB Sumenep, Moh. Nur Insan, kemudian menyampaikan adanya rencana pembentukan tim investigasi yang melibatkan sejumlah unsur dinas.

“Menurut informasinya Bu Kadis, beliau membuat tim untuk investigasi dari Dinkes termasuk Kabid termasuk tim yang lain untuk dilibatkan,” kata Nur Insan, Kamis (22/10/2026).

Meski demikian, ia belum memastikan apakah tim tersebut telah resmi dibentuk. Kunjungan ke BHC direncanakan berlangsung pada pekan berikutnya.

Bupati Janji Turun Tangan

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo juga menyatakan akan menindaklanjuti persoalan tersebut. Seusai apel Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2026), ia menyebut pemerintah daerah akan mempertimbangkan bantuan bagi keluarga korban.

“Ya nanti kita akan chek, kalau memang almarhum ini belum mendapatkan bantuan, kita akan bantu,” kata Fauzi.

Ia juga memastikan Dinkes P2KB akan bergerak memeriksa persoalan di BHC.

“Hari ini Dinkes P2KB Sumenep dipastikan akan bergerak,” ujarnya.

Namun, hingga saat ini, Senin (26/10/2026), belum ada keterangan terbaru yang memastikan hasil pemeriksaan, pembentukan tim investigasi, maupun tindak lanjut kunjungan bupati kepada keluarga korban.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Dani, warga Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, meninggal setelah menjalani perawatan di BHC. Keluarga sebelumnya mempertanyakan penanganan medis yang diterimanya. Penyebab pasti kematian dan dugaan kelalaian medis masih membutuhkan pemeriksaan profesional.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada manajemen BHC dan Dinkes P2KB Sumenep belum memperoleh tanggapan terbaru. Publik masih menunggu kejelasan mengenai klaim perdamaian dan pemeriksaan medis yang dijanjikan.

Redaksi masih berupaya meminta konfirmasi kepada manajemen BHC dan Dinkes P2KB Sumenep mengenai perkembangan terbaru kasus tersebut. ***