“Kalau saya pribadi di Sanggar Makan Ati, ada event tidak ada event, tetap proses. Itu.” — Marsiono, Seniman Pamekasan.
-----
PROFIL, DIMADURA — Bagi Marsiono, seni bukan perkara yang datang belakangan. Ia mengenalnya sejak kecil, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dan mulai bermain ludruk. Dari sana, jalannya melebar ke karawitan, seni rupa, kaligrafi, teater, tari, hingga sastra.
Kini, lelaki kelahiran Pamekasan, 1 Januari 1979, itu dikenal sebagai salah satu penggerak Sanggar Makan Ati di Pamekasan. Sanggar yang ia dirikan bersama Cahyanto sejak 1998 tersebut resmi berdiri pada 1999 dan terus menjadi ruang belajar berbagai cabang seni.
Marsiono tinggal di Jalan Pintu Gerbang Gang VII, Kelurahan Bugih, Pamekasan. Di sanggar itu pula, ia menghabiskan banyak waktunya untuk membina generasi muda.
“Kalau saya tertarik ke seni ini mulai dari kecil, kelas SD sebenarnya. Kelas SD ini sudah bermain ludruk,” kata Marsiono, saat ditemui wartawan media ini, Rabu (16/9/2026).
Ludruk menjadi salah satu pintu awalnya mengenal kesenian. Ia kemudian menekuni karawitan. Dari klenangan, lalu gendang. “Ya alhamdulillah semua menguasai sudah,” ujarnya.
Perjalanan itu kemudian membawanya lebih serius ke seni rupa. Sejak 1998 ia mulai menggeluti seni rupa, meski pada awalnya belum sepenuhnya fokus pada seni lukis. Ketertarikannya terhadap kaligrafi justru berkembang lebih kuat.
Pada 2000, Marsiono belajar mendalami kaligrafi kepada Ustaz Misbahul Munir di Situbondo. Ia juga banyak belajar dari almarhum Ustaz Baidhowi, yang dikenal sering meraih juara nasional.
“Kalau dulu kan saya biasa,” katanya, mengenang awal perjalanan tersebut.
Bagi Marsiono, kaligrafi memiliki hubungan dengan keyakinan dan dakwah. Ia tidak melihatnya semata sebagai pekerjaan artistik.
“Itu bagi saya semacam syiar juga, Mas,” katanya.
Menurut dia, kesibukan mengejar kehidupan dunia membuat sebagian orang mulai menjauh dari nilai-nilai keagamaan.
“Sekarang saking ambisinya mencari cuan, mengejar cuan, sampai lupa dengan lima waktu dan semacamnya. Kan banyak seperti itu, Mas,” ujarnya.
Karena itu, ia memilih kaligrafi sebagai salah satu cara menyampaikan pesan.
“Syiar untuk apa ya, agar budaya Islam juga tidak hilang di zamannya seperti sekarang,” kata Marsiono.
Makan Ati dan Ruang Regenerasi
Nama Sanggar Makan Ati sendiri memiliki arti khusus. Marsiono menjelaskannya sebagai akronim dari Madura Kandang Aktivitas dan Kreativitas.
Menurut dia, nama tersebut berangkat dari pandangan bahwa masyarakat Madura memiliki kreativitas di berbagai bidang.
“Orang Madura ini kan kreatif dari segi bidang apa saja. Entah dari pekerjaan halus sampai pekerjaan kasar ini. Madura ini terkenal kreatif,” ujarnya.
Sanggar itu terbuka bagi berbagai usia. Anak-anak PAUD hingga mahasiswa dapat belajar di sana. Regenerasi menjadi bagian penting dari aktivitas sanggar.
“Insya Allah setiap bulannya masih tetap ada regenerasi,” katanya.
Marsiono sendiri tidak sekadar menjadi pengurus. Ia tetap berada di tengah anak-anak yang belajar di sanggar. Bahkan, sebagian generasi penerus itu datang dari keluarganya sendiri.
“Termasuk anak saya yang meneruskan. Tapi saya tetap membina juga di sini, dalam artian tidak menjauh dari anak-anak,” tuturnya.
Rutinitas menjadi cara yang ia pilih untuk menjaga keberlangsungan sanggar. Hampir setiap malam ada kegiatan, kecuali malam Jumat dan malam Minggu.
Malam Senin diisi latihan karawitan, malam Selasa campursarian, malam Rabu tari, malam Kamis karawitan, dan malam Sabtu tari.
“Kalau saya pribadi di Sanggar Makan Ati ada event tidak ada event tetap proses,” kata Marsiono.
Menurutnya, latihan tidak boleh menunggu undangan pementasan. Dengan pola itu, ketika ada acara secara mendadak, anak-anak sanggar sudah siap.
“Makanya ketika ada event mendadak, Sanggar Makan Ati selalu siap,” ujarnya.
Pakem yang Tidak Boleh Hilang
Marsiono tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Ia justru mengembangkan sejumlah bentuk kesenian tradisional agar lebih mudah diterima generasi muda.
Dalam musik, misalnya, gending-gending Madura dikembangkan dengan sentuhan yang lebih rancak. Ia menyebut pemodelan koplo sebagai salah satu bentuk pengembangan.
Namun, pengembangan itu menurutnya tidak berarti meninggalkan pakem. “Tapi tidak menghilangkan pakem. Pakemnya tetap,” tegasnya.
Bagi Marsiono, pakem adalah identitas. Ia ingin anak-anak muda tetap mengenal akar budaya mereka meski bentuk pertunjukannya berkembang. “Pakem itu harus, kalau bisa dipertahankan,” katanya.
Di Sanggar Makan Ati, kesenian yang dipelajari cukup beragam. Ada karawitan, musik etnik, kolaborasi band dan organ, tari, teater, musikalisasi puisi hingga sastra.
Dalam musikalisasi puisi, Marsiono memilih gamelan sebagai pengiring. Ia mengembalikannya pada tradisi syair yang menurutnya memiliki fungsi sebagai media petuah.
“Kalau anak-anak, saya sendiri kalau diberi petuah-petuah dengan ucapan yang tanpa itu, kebanyakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri,” ujarnya.
Namun ketika petuah itu disampaikan melalui musik, ia melihat kemungkinan pesan tersebut lebih mudah diterima.
“Jadi kalau diiringi musik, insya Allah bisa masuk,” katanya.
Seni sebagai Cara Bertahan
Marsiono juga dikenal sebagai Ketua Ikatan Pelukis Indonesia Cabang Pamekasan dan Ketua Karisma Perupa Pamekasan. Ia aktif sebagai juri sekaligus pembina seni lukis.
Ia mengaku tidak terbiasa mengikuti perlombaan seni lukis untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia lebih sering mengikutsertakan murid-muridnya dalam berbagai kompetisi.
Di tingkat lokal, anak didiknya beberapa kali meraih juara pertama. Di tingkat Jawa Timur juga pernah meraih juara pertama. Sementara di tingkat nasional, ada yang masuk 10 besar.
Di luar lukisan dan kaligrafi, Marsiono juga membuat patung. Karyanya tidak selalu dibuat berdasarkan pesanan. Ia membuatnya sebagai bagian dari aktivitas berkesenian. Jika ada pengunjung sanggar yang tertarik, karya itu bisa dibeli.
“Jarang buka galeri, tidak begitu punya tempat. Cuma dipajang di sanggar ini,” katanya.
Pada September 2026, perjalanan kaligrafinya mendapat ruang di pameran internasional di Semarang. Dua karya yang ia ajukan lolos seleksi dan dipamerkan bersama sekitar 250 karya dari 45 negara.
Marsiono tidak dapat hadir dalam pembukaan karena harus menangani kegiatan di sanggarnya. Namun, dua karyanya tetap mewakili Indonesia dalam pameran tersebut.
Menolak Seni Madura Hilang
Bagi Marsiono, tantangan terbesar bukan sekadar membuat seni tradisional tetap tampil. Yang lebih penting adalah memastikan generasi muda tetap merasa memiliki kebudayaannya.
Ia tidak memusuhi budaya luar. Namun, ia mengingatkan agar masuknya budaya baru tidak membuat budaya sendiri ditinggalkan.
“Saya bukannya tidak senang. Nah, tetapi jangan sampai menghilangkan budaya kita sendiri,” katanya.
Ia meminta anak-anak di Sanggar Makan Ati mengembangkan apa yang sudah diajarkan kepada mereka. Bentuknya boleh berubah, tetapi garis besarnya tidak boleh keluar dari konteks budaya sendiri.
“Bisa dinalarkan sendiri, bisa dikembangkan sendiri. Dalam artian, dalam garis besar kita jangan sampai menyimpang dari konteks budaya kita yang sebenarnya,” ujarnya.
Karena itu, ia memilih jalan eksistensi. Sanggar harus terus bergerak, terus tampil dan terus melatih anak-anak.
“Ya kita harus eksis. Harus eksis dalam mempromosikan budaya kita,” katanya.
Bagi Marsiono, budaya Madura tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus dimainkan, dipentaskan, diajarkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
“Makanya kalau saya pribadi, dengan datangnya budaya luar ke budaya kita, saya selalu menepis. Kalau saya pribadi Mas, saya selalu tepis, malah budaya saya kembangkan agar bisa melebihi dari budaya luar.”
Ia sudah membawa kesenian Sanggar Makan Ati ke sejumlah daerah, seperti Banyuwangi, Jakarta, Bali, Malang dan Batu. Dalam setiap kesempatan, ia memilih membawa budaya Madura.
“Karena kami kan selalu mempromosikan budaya Madura khususnya. Tidak pernah saya itu menampilkan budaya luar. Selalu menampilkan budaya sendiri,” ujarnya.
Ia memberi contoh sederhana ketika sanggar diundang ke Bali.
“Contoh kecilnya ya kami diundang ke Bali, masa kami mau menampilkan Leak, tampilan Leak ataupun Barong kan tidak mungkin,” katanya sambil tertawa.
Pemerintah dan Jalan Panjang Kebudayaan
Dukungan masyarakat terhadap Sanggar Makan Ati, menurut Marsiono, sudah terasa. Ia mengaku kerap mendapat pertanyaan kapan sanggar kembali tampil.
“Banyak mengharap, menunggu kapan Makan Ati bisa tampil lagi, Makan Ati kapan ada event lagi,” ujarnya.
Kini ia berharap pemerintah ikut memperkuat ekosistem tersebut. Bukan semata dalam bentuk bantuan anggaran, tetapi juga dukungan terhadap pementasan dan promosi kebudayaan.
“Intinya saling kerja sama untuk melestarikan budaya, budaya daerah terutama daerah Madura,” katanya.
Selama ini, menurut Marsiono, dukungan pemerintah terhadap pementasan sudah sering ia rasakan. Namun bantuan anggaran untuk sanggar belum pernah diterima meski pengajuan pernah dilakukan.
“Kalau mengajukan sering, cuma belum rezekinya saja,” ujarnya.
Bagi Marsiono, keberadaan pemerintah tetap penting karena memiliki ruang lebih luas untuk mengenalkan kebudayaan daerah.
“Karena orang pemerintah yang bisa, mohon maaf ya, yang bisa menyiarkan atau mempromosikan budaya kita ke luar,” katanya.
Sementara ia memilih terus bekerja dari sanggar: melatih, mencipta, mengembangkan dan tampil.
Sebab bagi Marsiono, merawat kebudayaan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu pementasan. Ia adalah rutinitas.
“Kalau cuma pas nunggu ada event baru proses ya tidak mungkin, tidak bisa,” katanya.
Maka Sanggar Makan Ati terus berlatih. Malam demi malam. Anak-anak datang, belajar, memainkan musik, menari, membaca sastra, berteater dan mengenal kembali kebudayaan yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Di situlah Marsiono memilih bertahan, di antara pakem dan perkembangan zaman, antara sanggar dan panggung, serta antara seni sebagai ekspresi dan seni sebagai cara menjaga ingatan kebudayaan Madura. ***

