PROFIL, DIMADURA—"Harapan Mbah ingin melihat Madura United jadi juara tahun ini," kata Mbah Hosen kepada wartawan Liputan6 di sela-sela launching tim Madura United, Rabu (10/1/2018), dikutip Sabtu (19/9/2026).
Kalimat itu terucap dari seorang lelaki yang telah melewati usia senja, tetapi semangatnya di tribun tetap menyala.
Mbah Hosen datang ke stadion dengan atribut Madura United, berdiri di bawah papan skor, lalu berjoget mengikuti jalannya pertandingan.
Bertahun-tahun ia melakukan hal yang sama.
Ketika pemain berlari mengejar bola, Mbah Hosen ikut larut dalam permainan. Ketika gol tercipta, ia merayakannya bersama suporter.
Tubuhnya mungkin tak lagi sekuat pemain yang berada di lapangan, tetapi kecintaannya kepada Laskar Sape Kerrab seolah tak mengenal usia.
Mbah Hosen kemudian menjadi salah satu wajah yang melekat pada tribun Madura United.
"Mbah udah lama menyukai sepakbola lokal. Sebelum ada Madura United, Mbah mendukung Persepam Madura," ujarnya, masih dikutip dari Liputan6.
Ia mengenal pergantian pemain, menyaksikan perubahan skuad, mengikuti perjalanan klub dari musim ke musim. Para pemain pun mengenalnya. Ketika ia meminta berfoto bersama, mereka dengan ramah melayani.
Raphael Maitimo pernah dibuat kagum oleh kesetiaan lelaki tua tersebut. "Luar biasa ya, sudah tua seperti ini masih setia mendukung tim," kata Maitimo.
Pada 2018, ketika Madura United memperkuat skuad dengan sejumlah pemain top, termasuk Maitimo dan Benny Wahyudi, harapan Mbah Hosen pun sederhana: melihat tim kebanggaannya menjadi juara.
"Harapan Mbah ingin melihat Madura United jadi juara tahun ini," ujarnya.
Kalimat tersebut kini terdengar seperti potongan pesan yang ditinggalkan seorang suporter kepada klub yang dicintainya.
Mbah Hosen meninggal dunia pada Sabtu (19/9/2026). Kabar itu membawa duka bagi keluarga besar Madura United.
Selama bertahun-tahun, ia telah menempati ruang khusus dalam cerita klub; ruang yang berada di tribun, tempat para pemain mungkin hanya berada selama 90 menit, sementara seorang suporter bisa menghabiskan puluhan tahun hidupnya di sana.
Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, mengenang Mbah Hosen sebagai sosok dengan kecintaan luar biasa kepada Laskar Sape Kerrab.
"Beliau mengajari kami satu hal: mencinta tim bukan soal usia. Beliau suporter tertua kami, setia sejak Madura United baru ada," kenang Achsanul dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Sabtu (19/9).
Mbah Hosen memang dikenal sebagai suporter tertua Madura United. Namun, yang membuatnya dikenang bukan semata soal umur.
Ada konsistensi dalam kehadirannya.
Ia datang ketika pertandingan berlangsung. Berdiri di tempat yang sama. Mengenakan atribut klub. Menikmati laga dengan caranya sendiri.
"Selalu berdiri di tribun bawah papan skor lengkap dengan atribut Madura, berjoget sepanjang pertandingan tanpa peduli usia," ungkap Achsanul.
Dari tempat itu, Mbah Hosen menjadi bagian dari atmosfer pertandingan. Ia tidak perlu berada di tengah lapangan untuk memberi pengaruh. Kehadirannya sendiri sudah menjadi pemandangan yang ditunggu.
Pada awal musim Super League 2026/2027, Mbah Hosen masih sempat menyaksikan Madura United berlaga.
Jumat (18/9/2026), Laskar Sape Kerrab menghadapi PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) Pamekasan. Madura United menang 2-1.

Sehari kemudian, Mbah Hosen berpulang.
Pertandingan itu menjadi salah satu kenangan terakhir tentang sosok yang selama bertahun-tahun mengisi tribun dengan atribut dan gerak tubuhnya.
Kepergian Mbah Hosen juga terjadi hanya beberapa hari setelah Madura United kehilangan Mimit Tirmidzi, suporter yang dikenal loyal mendukung Laskar Sape Kerrab.
Dalam rentang sembilan hari, dua sosok dari tribun pergi.
"Dalam 9 hari, tribun ini kehilangan dua penjaganya. Berat rasanya. Selamat jalan, Mbah Hosen. Terima kasih untuk kesetiaan yang tidak pernah putus," kata Achsanul.
Mbah Hosen meninggalkan cerita yang sederhana. Ia mencintai sepak bola dengan cara yang paling ia pahami: datang ke stadion dan mendukung timnya.
Harapan menjadi juara pernah ia ucapkan ketika usianya telah lanjut. Ia terus menunggu, mengikuti perjalanan Madura United, dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Kini, tribun bawah papan skor masih akan menjadi tempat para suporter berkumpul. Bendera akan tetap berkibar. Nyanyian akan tetap terdengar. Pemain akan tetap berlari mengejar kemenangan.
Hanya satu pemandangan yang akan hilang dari sana, seorang lelaki tua beratribut Madura United yang berdiri dan berjoget sepanjang pertandingan.
Mbah Hosen telah pergi. Namun, kesetiaan yang ia tunjukkan selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari ingatan Madura United. ***

