Oleh: Mazdon


Logo dimadura.idSASTRA DIMADURA – Siang itu, Rabu tanggal 9 Juli 2024, Sang ayah Khalil Tirta bersama Uwais Zaman (7th) & Ghaist Al Jinan (6th), "ngaji puisi" bersama di depan pusara Sayyid Jemur (Buju' Bagung), Dusun Munggu Desa Talango, Sumenep, Madura.

Duet Uwais & Ghaist Baca Puisi Dhadha Se Eporak

https://youtu.be/Rc4G5a9hCWk?si=mfJft1bQf2X7zVLy

"

Menonton dan mendengar suara Uwais dan Ghaist mendaras puisi ayahnya, penulis merasa tergugah untuk menulis oretan sederhana ini.

"

Berikut lirik puisi Bahasa Madura atau sajak Khalil Tirta (Dhadha se Eporak) beserta artinya dalam bahasa Indonesia:

DHADHA SE EPORAK

Dhadhana pasera se lebbi nanggama  Nalekana ngemban amanah Betta dha’ sadaja nespa, loka tor nyangsara

Dhadhana pasera se lebbi lonyo Se paleng agandhu’ taresna Lembu’ tor rajha pangaporana Dha’ ka reng-oreng  se ta’ dhapor ka aba’na

Sanajjan saka’dinto, dadhana paggun seppe dari serro, dhadha se paggun anyo'onnagi Pola bada li’-bali’na dhadhar e budhi are

Dhadhana pasera se paggun teggu sanajjan babaja alengker e yadha’na mata dhari rengsa rassa sake’ ekaneyaja Sabagiyan bala-tatangga Sampe' magunjhek gunong! Amarga rassa bellis se tombu e dhadhana Malaikat Naleka anyakse'e kakase se esake’e.

Angen, tana, ka’-bungka’an, bato, burun alas Ampon padha molar kabbi Padha ngoso’ kabbi, padha nya’-tanya'an kabbi

“ Duh, Kanjeng nabi! Duh Kanjeng Nabi! Duh Kanjeng Nabi! Dari ponapa dhadha Ajunan ebadhi? ”   Duh baramma’a kastana epadaddi bhato Se ekoteppagi dha’ salerana sampe’ nyapcap dharana?

Duh baramma’a kastana daddi calatthonga onta se eyancannagi dha' salerana e bakto nyemba ka Guste Pangeranna?

Duh baramma’a bunga tor teggenna epadaddi aeng somor se macco loka-lokana?

Dhadhana pasera se paggun jekjek Ta’ agalimbang sanajjan nyaba tarowanna

Dhadhana pasera se paggun atoles:

Inlam yaqun bika alayya ghadobun Fala Ubali! Fala Ubali! Fala Ubali!

“ Angsal Ajunan ta’ duka dha’ abdi dhalem, Guste, maka abdina ta’ marduli dha’ sadaja nyangsara otaba babaja se bakal teba. Amarga bellas asena Ajunan lebbi raja katembang loka-loka se badha ”

Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba, rassa ta’ tega, dha’ nasib abdina sadaja?

Dhadhana pasera se daddiya tamba naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha?

Dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerrongnga katembang dhadhaa se paleng pornama nyengkap pettengnga ate sareng alam dunnya.

Gapurana, 04 Juli 2024


Baca Juga:  

Arti puisi "Dhadha Se Eporak" dalam terjemah bebas Bahasa Indonesia.

Dada yang Terbelah

Dada siapa yang lebih menerima Di kala mengemban amanah Tabah atas seluruh duka, luka dan sengsara

Dada siapa yang lebih mulus Yang paling menyimpan cinta Lembut dan besar rasa memaafkannya Kepada orang-orang yang tak becus terhadap dirinya Bahwa walau demikian, dadanya tetap sepi dari ngeluh, dada yang tetap memohon Barangkali masih ada ruang terbuka di kemudian hari

Dada siapa yang tetap kokoh Sekalipun bahata melingkat di depan mata Dari nestapa rasa sakit dianiaya Sebagian bala tetangga Sampai menggoncang gunung Lantaran rasa benci yang tumbuh di dada malaikat Tatkala menyaksikan kekasih yang disakiti Angin, tanah, tetumbuhan, batu dan binatang buas Telah sama menangis semuanya Sama murka, sama bertanya-tanya semuanya

“ Duh Kanjeng nabi! Duh Kanjeng Nabi! Duh Kanjeng Nabi! Dari apa dadamu diciptakan? ”

Duh bagaimana kiranya sesal jadi batu Dilempar ke wajahnya sampai menetes darah itu?

Duh bagaimana kiranya sesal jadi kotoran unta yang dilampiaskan ke wajahnya di kala menyembah pada Gusti Tuhan Semesta?

Duh seperti apakah kebahagiaan itu, bagaimana sikap kokohnya bisa menjadi air sumur yang menyucikan luka-lukanya?

Dada siapa yang tetap tegak Tidak goyah sekalipun nyawa jadi taruhannya Dada siapa yang tetap menuliskan: In lam yakun bika, 'alayya ghadobun Fa laa ubali! Fa laa ubali! Fa laa ubali!

“

Asal engkau tidak berduka atas hamba, Gusti! Maka hamba tidak akan peduli atas kesengsaraan apapun, atas bahaya apapun yang menimpa. Sebab belas kasihmu lebih besar ketimbang luka-luka yang ada

”

Dada siapa yang paling memuat rasa kasih Rasa tak tega pada nasib kami semua

Dada siapa yang akan jadi obat penawar Ketika lukaku dan lukamu ini sesak dalam dada?

Dada siapa yang lebih purba rasa rindunya dibanding dada paling purnama menyingkap gelap hati dan alam dunia?

4 Juli 2024


Sekilas Ulasan Puisi "Dhadha se Eporak"

Puisi "Dhadha se Eporak" atau "Dada yang Terbelah" karya Khalil Tirta ini merupakan sebuah eksplorasi mendalam tentang kemanusiaan, iman, dan keberanian dalam menghadapi cobaan hidup.

Melalui bait-bait yang diungkapkan dengan keindahan bahasa Madura, Tirta berhasil menyampaikan pesan yang kaya akan filosofi dan makna.

Dalam ulasan ini, saya hendak melakukan sedikit analisis atas setiap bait puisi ini, dengan tujuan memahami nuansa dan esensi yang terkandung dalam setiap kata yang dipilih dengan cermat oleh sang penyair.

Bait Pertama:

" Dhadhana pasera se lebbi nanggama / Nalekana ngemban amanah / Betta dha’ sadaja nespa, loka tor nyangsara

"

Bait pembuka ini langsung membawa kita ke dalam inti puisi dengan menggambarkan dada yang menerima amanah.

"Dhadhana pasera se lebbi nanggama" menunjukkan penerimaan yang lebih dari sekadar penerimaan fisik; ini adalah penerimaan spiritual dan emosional terhadap tanggung jawab yang berat.

Amanah dalam konteks ini bisa berarti tanggung jawab dalam kehidupan, baik itu sebagai pemimpin, orang tua, atau manusia pada umumnya.

Kata "nespa, loka tor nyangsara" menggambarkan penderitaan dan duka yang harus dihadapi dengan ketabahan. Ini mengisyaratkan bahwa penerimaan amanah tidak hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga tentang keberanian dan keteguhan hati dalam menghadapi segala rintangan.

Bait Kedua:

" Dhadhana pasera se lebbi lonyo / Se paleng agandhu’ taresna / Lembu’ tor raja pangaporana / Dha’ ka reng-oreng se ta’ dhapor ka aba’na

"

Bait ini menggambarkan dada yang penuh dengan cinta dan kemampuan memaafkan. "Lebbi lonyo" berarti sangat halus, menggambarkan kelembutan hati yang dipenuhi dengan "taresna" atau cinta.

Kelembutan ini diperkuat dengan kemampuan untuk memaafkan, bahkan terhadap mereka yang tidak tahu berterima kasih atau yang telah menyakiti kita ("se ta’ dhapor ka aba’na").

Ini adalah penggambaran kasih sayang yang tanpa syarat dan pengampunan yang tulus, sebuah kualitas yang sangat dihargai dalam tradisi spiritual dan kemanusiaan.

Bait Ketiga:

" Sanajjan saka’dinto, dadhana paggun seppe dhari serro, dhadha se paggun anyo'onnagi / pola badha li’-bali’na dhadhar e budi are

"

Bait ini memperlihatkan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan oleh cobaan. "Paggun seppe dhari serro" berarti tetap tenang meskipun dalam kesulitan, dan "paggun anyo'onnagi" menunjukkan permohonan yang terus menerus.

Tirta mengajak kita untuk melihat bahwa meskipun dada tersebut penuh dengan luka dan penderitaan, tetap ada harapan untuk masa depan yang lebih baik ("pola bada li’-bali’na").

Bait ini merupakan refleksi dari entitas kepercayaan bahwa setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan, sebuah konsep yang mendalam dalam banyak tradisi spiritual.

Bait Keempat:

" Dhadhana pasera se paggun teggu / sanajjan babaja alengker e yadha’na mata / dhari rengsa rassa sake’ ekaneyaja / sabagiyan bala-tatangga

"

Bait ini menyoroti kekokohan hati yang tetap berdiri teguh meskipun menghadapi bahaya di depan mata. "Paggun teggu" berarti tetap kokoh, dan "babaja alengker e yadha’na mata" menunjukkan bahwa bahaya sudah sangat dekat.

Tirta menggambarkan situasi di mana penderitaan dan ketidakadilan datang dari lingkungan terdekat ("bala-tatangga"), tetapi dada ini tetap tidak goyah. Ini adalah penggambaran keberanian yang luar biasa, sebuah keberanian yang tidak hanya fisik tetapi juga moral dan spiritual.

Bait Kelima:

" Sampe' magunjhek gunong! / Amarga rassa bellis se tombu e dhadhana Malaikat / Naleka anyakse'e kakase se esake’e

"

Bagian ini menggambarkan intensitas penderitaan dan rasa benci yang sampai mengguncang gunung. "Rassa bellis se tombu e dhadhana Malaikat" menggambarkan kebencian yang muncul di dada malaikat, sebuah metafora yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa besar penderitaan yang dirasakan ketika menyaksikan kekasih yang disakiti.

Ini mengingatkan kita pada penderitaan yang dialami oleh orang-orang suci atau mereka yang sangat dicintai oleh Tuhan, yang bahkan membuat alam semesta ikut berduka dan murka.

Bait Keenam:

" Angen, tana, ka’-bungka’an, bato, burun alas / Ampon padha molar kabbi / Padha ngoso’ kabbi, padha nya’-tanya'an kabbi / “Duh, Kanjeng nabi! Duh Kanjeng Nabi! / Duh Kanjeng Nabi! / Dari ponapa dhadha ajunan ebadhi?”

"

Bait ini memperlihatkan tangisan alam semesta dalam menghadapi penderitaan sang kekasih. "Angen, tana, ka’-bungka’an, bato, burun alas" mencakup elemen-elemen alam seperti angin, tanah, tumbuhan, batu, dan binatang buas yang semuanya menangis dan bertanya-tanya, "Duh, Kanjeng Nabi, dari apa dadamu diciptakan?"

Pertanyaan ini menunjukkan kekaguman dan keheranan terhadap keteguhan hati dan kesabaran Nabi dalam menghadapi cobaan yang sangat berat--sebuah meditasi tentang kekuatan spiritual dan ketabahan yang luar biasa, sesuatu yang bahkan alam semesta pun mengakui dan merasa kagum.

Bait Ketujuh:

" Duh baramma’a kastana epadaddi bato / Se ekoteppagi dha’ salerana sampe’ nyapcap dharana? / Duh baramma’a kastana daddi calatthongnga onta se eyancannagi dha' salerana e bakto nyemba ka Guste Pangeranna?

"

Bagian ini menggambarkan sesal dan penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang menyakiti sang kekasih. "Baramma’a kastana" berarti betapa dalamnya penyesalan, dan ini ditunjukkan melalui analogi batu yang dilemparkan hingga meneteskan darah dan kotoran unta yang dilampiaskan pada saat menyembah Tuhan.

Diksi dalam bait ini menyiratkan sebuah representasi dari kebiadaban dan kekejaman manusia yang berlawanan dengan kesucian dan ketulusan hati sang kekasih.

Penyesalan tidak hanya bersifat fisik tetapi juga spiritual, menunjukkan bahwa tindakan kejam tersebut berbalik menghantui pelakunya dengan rasa bersalah yang mendalam.

Bait Kedelapan:

" Duh baramma’a bunga tor teggenna epadaddi aeng somor se macco loka-lokana?

"

Bait ini melanjutkan tema penyesalan dengan bertanya bagaimana mungkin seseorang yang begitu kokoh dan penuh kasih dapat menjadi sumber penyucian dan penyembuhan.

"Aeng somor" yang berarti air sumur, adalah metafora untuk sumber kehidupan dan penyucian. Pertanyaan ini menggambarkan betapa luar biasanya dada sang kekasih yang mampu mengubah penderitaan menjadi sesuatu yang suci dan menyembuhkan.

Sebuah gambaran tentang transformasi spiritual, di mana penderitaan dan kesakitan dapat diubah menjadi sumber kekuatan dan penyucian.

Bait Kesembilan:

" Dhadhana pasera se paggun jekjek / Ta’ agalimbang sanajjan nyaba tarowanna / Dhadhana pasera se paggun atoles: / In lam yakun bika alayya ghadobun / Fala Ubali! Fala Ubali! Fala Ubali!

"

Bait yang menegaskan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan meskipun menghadapi ancaman kematian. "Paggun jekjek" berarti tetap tegak, dan "ta’ agalimbang" menunjukkan ketidakgoyahan.

Kalimat dalam bahasa Arab "In lam yakun bika alayya ghadobun / Fala Ubali" yang berarti "Asal engkau tidak berduka atas hamba, Gusti, maka hamba tidak akan peduli atas kesengsaraan apapun," adalah sebuah pernyataan iman yang luar biasa.

Ketulusan hati dalam mengabdi kepada Tuhan, bahwa selama Tuhan tidak marah atau kecewa, segala penderitaan di dunia ini tidak berarti apa-apa. Ini adalah puncak dari spiritualitas dan keikhlasan dalam beriman.

Bait Kesepuluh:

" Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba, rassa ta’ tega dha’ nasib abdina sadaja? / Dhadhana pasera se daddiya tamba / naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha? / dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerrongnga katembang dhadha se paleng pornama / nyengkap pettengnga ate / Sareng alam dunnya.

"

Bait terakhir ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang kasih yang paling sejati dan universal.

"Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba" menggambarkan dada yang paling penuh dengan rasa kasih, sebuah kasih yang tidak bisa dipisahkan dari nasib semua hamba.

Lukisan tentang kasih yang bersifat inklusif, mencakup semua manusia tanpa kecuali. Tirta mengajukan pertanyaan tentang nasib kita sebagai hamba, menunjukkan bahwa kasih sejati tidak bisa abai terhadap penderitaan orang lain.

"Dhadhana pasera se daddiya tamba / naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha" menggambarkan dada yang menjadi obat penawar ketika dunia terasa menyesakkan--menunjukkan kemampuan hati untuk menyembuhkan dan memberi harapan di tengah kesulitan. Dada adalah simbol dari sumber kekuatan yang mampu mengatasi kegelapan hati dan dunia.

"Dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerronga katembhang dada se paleng pornama / nyengkap pettengnga ate" menggambarkan dada yang penuh dengan kerinduan purba, lebih tua dari dada yang paling bersinar seperti bulan purnama.

Dialah dada yang mampu menyingkap kegelapan hati, memberikan pencerahan dan makna dalam hidup kita. Dada itu tidak hanya mempengaruhi individu tetapi juga alam dunia, menunjukkan kekuatan transformatif dari kasih dan ketabahan spiritual.

Sementara Kesimpulan

Puisi "Dhadha se Eporak" karya Khalil Tirta adalah sebuah karya sastra yang menggugah dan mendalam. Melalui setiap baitnya, Tirta mengajak kita untuk merenungkan makna sejati dari ketabahan, kasih, dan keberanian dalam menghadapi cobaan hidup.

Puisi ini tidak hanya mengungkapkan penderitaan dan kesakitan, tetapi juga menunjukkan kekuatan spiritual yang mampu mengubah penderitaan menjadi sumber kekuatan dan kasih yang sejati.

Dalam setiap baitnya, Tirta menggunakan bahasa yang indah dan penuh makna, menggabungkan elemen-elemen spiritual dan filosofis untuk menciptakan sebuah karya yang tidak hanya indah secara estetis tetapi juga mendalam dalam makna.

Melalui metafora dan analogi yang kaya, Tirta berhasil menggambarkan kompleksitas dan keindahan dari ketabahan dan kasih yang tulus, menunjukkan bahwa meskipun dunia penuh dengan penderitaan, ada kekuatan yang lebih besar yang mampu mengatasi segala rintangan.

Puisi ini adalah sebuah panggilan untuk merenungkan dan memahami kekuatan spiritual yang ada dalam diri kita, untuk tetap teguh dan penuh kasih dalam menghadapi segala cobaan hidup.

Dengan menggali makna dari setiap baitnya, kita dapat menemukan inspirasi dan kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh keberanian dan ketabahan, selalu mengingat bahwa kasih yang sejati mampu mengatasi segala penderitaan dan memberikan pencerahan dalam kegelapan hati dan dunia.

Refleksi Filosofis

Pada tingkat filosofis, puisi ini menggambarkan paradoks eksistensial antara penderitaan dan kasih, antara kejahatan dan kebaikan. Tirta menunjukkan bahwa dalam dada manusia, terdapat kemampuan untuk menampung penderitaan yang luar biasa namun tetap memancarkan kasih yang tanpa batas.

Ia mencerminkan pandangan bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi lebih dari sekadar makhluk yang menderita; kita bisa menjadi sumber kasih dan penyembuhan bagi dunia.

Puisi ini juga mengajak kita untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman meskipun menghadapi cobaan yang berat.

"Inlam yaqun bika alayya ghadobun / Fala Ubali!" adalah sebuah pernyataan iman yang menunjukkan bahwa selama kita merasa dicintai oleh Tuhan, kita dapat mengatasi segala bentuk penderitaan; konsep yang sangat mendalam dalam banyak tradisi spiritual, menunjukkan bahwa kasih Tuhan adalah sumber kekuatan yang tak tertandingi.

Dalam konteks sosial, puisi ini juga memberikan kritik terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang sering kali datang dari lingkungan terdekat kita.

Dengan menggambarkan bagaimana dada tetap kokoh meskipun dianiaya oleh tetangga, Tirta mengingatkan kita akan pentingnya ketabahan dan kasih dalam menghadapi ketidakadilan sosial. Ini adalah panggilan untuk selalu berusaha menjadi sumber kasih dan pengampunan, bahkan dalam situasi yang paling sulit.

Sementara Epilog

"Dhadha se Eporak" adalah sebuah karya sastra yang tidak hanya menawarkan keindahan bahasa tetapi juga kedalaman makna. Melalui eksplorasi tentang ketabahan, kasih, dan keberanian, Khalil Tirta mengajak kita untuk merenungkan makna sejati dari kehidupan dan iman.

Puisi ini adalah sebuah cerminan dari kekuatan spiritual yang ada dalam diri kita, sebuah panggilan untuk selalu teguh dan penuh kasih dalam menghadapi segala cobaan hidup.

Dengan memahami dan merenungkan pesan-pesan yang terkandung dalam puisi ini, kita dapat menemukan inspirasi untuk menjalani hidup dengan penuh keberanian dan kasih, selalu mengingat bahwa dalam dada kita terdapat kekuatan yang mampu mengatasi segala penderitaan dan memberikan pencerahan dalam kegelapan hati dan dunia.***