Sampai informasi yang dihimpun pada 22 Oktober, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, drg. Ellya Fardasah, juga belum memberikan tanggapan langsung kepada media. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa ia sedang berada di luar kota.

Persoalannya bukan semata-mata apakah kepala dinas sedang berada di kantor atau di luar kota. Yang lebih penting adalah bagaimana institusi memastikan pelayanan informasi dan tindak lanjut pengawasan tetap berjalan.

Kasus yang menyangkut keselamatan pasien tidak semestinya menggantung hanya karena pejabat yang berwenang belum dapat ditemui.

Jawaban atas kematian

Pada hari yang sama, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan rencana pemberian santunan kepada keluarga Dani, yang disebutnya sebagai kerohiman. Pernyataan itu disampaikan seusai Apel Hari Santri di halaman Pemerintah Kabupaten Sumenep, Kamis (22/10) pagi.

"Nanti kita akan cek kalau memang santri ini tidak mampu, nanti kita akan kasih kerohiman," ucap Fauzi.

Ia kemudian menegaskan, "Ya, nanti kita akan berikan santunan. Mungkin besok."

Pernyataan tersebut patut dicatat sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap keluarga yang sedang berduka. Bantuan sosial dapat membantu meringankan beban keluarga, terutama apabila mereka berada dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Namun, santunan tidak boleh berhenti menjadi jawaban paling mudah atas persoalan yang jauh lebih mendasar.

Keluarga yang kehilangan anak membutuhkan dukungan kemanusiaan, tetapi mereka juga berhak memperoleh kejelasan tentang penanganan medis yang diterima anaknya. Keduanya tidak saling menggantikan.