“Pembuat foto bagus itu banyak, tetapi yang mendapatkan momen hanya orang-orang tertentu,” tuturnya lebih lanjut.
Terkait AI, Kanwa menyebut teknologi tersebut telah mengubah proses produksi fotografi digital. Namun, penggunaannya dalam jurnalistik tetap harus dibatasi oleh prinsip etika.
“AI ini adalah alat bantu, bukan pengganti nurani jurnalis. Ada yang bilang 'biarkan foto berbicara'. Apakah AI bisa seperti itu?” ujarnya.
Ia menjelaskan, AI masih dapat digunakan untuk membantu mengatasi keterbatasan teknis dalam fotografi selama tidak mengubah makna foto.
“AI digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis yang ada dalam proses fotografi digital agar hasilnya lebih akurat, tanpa mengubah makna dan arti foto tersebut,” katanya.
Kanwa mencontohkan penggunaan AI untuk penyuntingan teknis seperti koreksi warna. Namun, penyuntingan tersebut tidak boleh mengubah unsur esensial dalam foto.
“AI ini berfungsi sebagai alat penyuntingan teknis untuk koreksi warna, tetapi tidak untuk mengubah warna esensial, seperti mengubah warna rambut untuk keperluan manipulasi usia dan sebagainya,” sambungnya.
Lokakarya Fesmed Selat Malaka 2026 tersebut menjadi ruang diskusi mengenai tantangan jurnalisme visual di tengah perkembangan teknologi.
Kegiatan ini juga mempertemukan AJI, PFI, jurnalis, kreator konten, dan masyarakat untuk memperkuat pemahaman mengenai informasi visual yang akurat.
Pada akhir kegiatan, peserta diperlihatkan foto-foto dari buku foto jurnalistik Prahara Pulau Emas. Buku tersebut mendokumentasikan korban serta dampak bencana banjir di Aceh dan sejumlah wilayah lain di Sumatera. ***

