Saya kira, karya seni tidak selalu harus menunjukkan kenyataan sebagaimana adanya. Kadang ia justru penting karena menunjukkan kenyataan sebagaimana seseorang ingin melihatnya.

 

Masa Depan Lukisannya

Karena itu, saya tidak berharap Syifa menjadi pelukis yang semakin pandai menggambar gedung.

Itu perkara latihan. Saya justru berharap ia kelak berani mengganggu keteraturan lukisannya sendiri. Biarkan suatu hari ada pedagang di depan sekolah.

Biarkan ada nelayan membawa hasil laut. Biarkan ada perempuan menjemur ikan. Biarkan ada anak berlari menuju musala. Biarkan ada orang menunggu di depan bank. Biarkan ada kapal di laut.

Biarkan ada pulau di kejauhan. Biarkan ada pasar yang riuh. Biarkan ada sampah yang harus dibersihkan. Biarkan ada orang yang berbeda pendapat.

Dengan begitu, Sumekar tidak lagi sekadar berarti bunga yang mekar, tetapi kehidupan yang bergerak.

Sebab tugas seorang pelukis pada akhirnya bukan membuat dunia tampak indah. Tugasnya adalah membuat kita melihat dunia dengan cara yang sebelumnya tidak kita pikirkan.

Dalam lukisan ini, Syifa belum sampai sejauh itu. Tetapi ia sudah mengetuk pintunya. Dan yang mengetuk itu bukan sekadar tangan seorang anak yang sedang belajar menggambar.