Hendra Gunawan dan Cara Melihat yang Tidak Akademis

Untuk membaca cara Syifa menyusun dunia, Hendra Gunawan adalah pembanding yang lebih berguna daripada pelukis realis.

Bukan karena Syifa sudah mencapai kualitas Hendra. Jelas belum. Keduanya memiliki satu kemungkinan bahasa yang sama, bahwa kenyataan tidak harus disalin untuk dapat dikatakan benar.

Dalam "Menguliti Pete", misalnya, Hendra menggambarkan kehidupan rakyat secara naif dan ekspresif. Warna dan goresannya tidak semata-mata mengikuti kenyataan visual, tetapi membangun irama kehidupan.

Galeri Nasional menyebut karya itu sebagai gambaran ekspresif kehidupan rakyat dengan ungkapan naif dan warna yang secara intuitif menjalin bentuk.

Hendra bahkan dikenal kuat dalam menggambarkan pasar, kampung, revolusi, ibu-anak dan kehidupan rakyat dengan warna yang hidup dan kelembutan yang khas.

Syifa berada di wilayah yang sangat jauh dari kematangan itu. Tetapi nalurinya menarik.

Ia tidak bertanya bagaimana kota itu secara optis terlihat. Ia bertanya, secara intuitif: "Apa saja yang membuat saya mengenali kota ini?"

Maka muncullah tulisan BANK BPRS BHAKTI SUMEKAR. Muncul tulisan SEKOLAH. Muncul MUSYOLAH. Muncul tempat sampah. Muncul bendera.

Syifa melukis identitas benda, tapi tentu bukan sekadar benda.