Kota dan Masyarakat

Perhatikan pula posisi keluarga.

Ayah, ibu dan anak ditempatkan di depan bangunan-bangunan itu. Mereka bukan sekadar penghias komposisi. Mereka adalah subjek yang membuat seluruh kota mempunyai alasan untuk ada.

Bank ada untuk manusia. Sekolah ada untuk manusia. Musala ada untuk manusia. Ruang publik ada untuk manusia. Tempat sampah pun ada karena manusia berbagi ruang.

Dengan demikian, kalau bangunan-bangunan di belakang merupakan institusi, keluarga di depan adalah masyarakat.

Lukisan itu lalu dapat dibaca seperti sebuah konstruksi sosial sederhana: agama — ekonomi — pendidikan — keluarga — lingkungan.

Semua itu berada dalam satu ruang yang damai, dan di situlah barangkali, Syifa sengaja hendak memperlihatkan keterbatasannya sekaligus kekuatannya.

Ia belum menggambar masyarakat yang sesungguhnya rumit. Tidak ada kemiskinan, konflik, kesenjangan, pekerjaan berat, kemacetan, kesepian, atau pertengkaran. Tidak ada sisi gelap kota.

Tetapi mungkin justru karena itulah lukisan ini penting. Ia bukan potret realitas. Ia adalah potret harapan.