Merah sebagai Mekarnya Dunia
Secara visual, merah adalah keputusan Syifa yang paling berani.
Merah menjalari atap, lantai, bahkan suasana keseluruhan. Ia membuat lukisan terasa hangat sekaligus riuh. Di atas merah itu, hijau, kuning, putih dan biru bekerja seperti kelopak-kelopak yang muncul dari satu dasar.
Menarik jika warna tersebut dibaca kembali melalui metafora sumekar. Bunga tidak mekar dengan satu warna. Ia mekar melalui pertemuan warna.
Begitu pula Sumenep yang dibayangkan Syifa. Bahwa Kota Sumenep di sebut kota karena ia ada tidak tunggal, tetapi terdiri atas banyak lapisan. Ada agama, pendidikan, ekonomi, keluarga, alam, dan kebangsaan.
Di luar lukisan, metafora itu memang menemukan konteks yang lebih luas. Sumenep merupakan wilayah daratan dan kepulauan. Pemerintah daerah sendiri menyebut kondisi geografis tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan layanan BPRS.
Jika kita memperluas pembacaan itu, diksi kata Sumekar seolah tidak hendak menyuguhkan bunga mekar, tapi daerah yang tumbuh dari keragaman. Pulau-pulau, kebudayaan, masyarakat, tradisi dan kekayaan hayati yang tersebar dari daratan sampai kepulauan.
Maka sebuah bank daerah bernama Bhakti Sumekar yang muncul di tengah lukisan seorang anak Sumenep menjadi hampir seperti metonimi daerah itu sendiri.
Ia membawa nama daerah ke dalam kanvas.

