Entah, apakah karya ini adalah murni kehendaknya melukis Kota Sumenep, ataukah memang pesanan dari orang di BPRS Bhakti Sumekar. Kita abaikan saja terkaan ini.

Coba kita telisik saja apa makna dan filosofi frasa "Bhakti Sumekar" yang, entahlah sengaja atau tidak, Syifa letakkan ia sebagai pusat latar lukisannya.

"Bhakti", lazim dimaknai sebagai pengabdian atau kecintaan. Sementara "Sumekar", sebagaimana ditelusuri dalam kajian kebahasaan Jawa, berasal dari kata sekar dengan sisipan -um-, yang melahirkan pengertian "mekar", "mengembang", "berkembang".

Jika kedua kata itu dibaca secara puitis, "Bhakti Sumekar" dapat terdengar seperti pengabdian yang membuat sesuatu tumbuh dan berkembang.

Saya kira, frasa itu memang cukup menarik ditempatkan di tengah lukisan Syifa. Bank berdiri di pusat kanvas. Bukan musala. Bukan sekolah. Bukan keluarga. Malah, bangunan dan nama bank milik daerah.

Namun jangan tergesa menyimpulkan bahwa Syifa sedang memuliakan uang. Justru sebaliknya. Ia menempatkan bank sebagai salah satu simpul kehidupan daerah, tempat ekonomi bergerak, masyarakat berurusan dengan kebutuhan hidup, dan cita-cita tentang kesejahteraan diberi bentuk institusional.

Secara historis pun, BPRS Bhakti Sumekar memang bukan institusi yang tumbuh terlepas dari daerah. Pemerintah Kabupaten Sumenep mengakuisisi PT BPR Dana Merapi pada 2001; pada 2002 namanya berubah menjadi PT BPR Bhakti Sumekar dan direlokasi ke Sumenep, sebelum dikonversi menjadi BPRS pada 2003.

Kini, bank tersebut merupakan perusahaan perseroan daerah milik Pemkab Sumenep. Dengan kata lain, nama dan sejarah bank itu sendiri membawa gagasan tentang daerah.

Syifa, barangkali tanpa kesadaran teoritis, telah menangkapnya melalui gambar.