Itulah salah satu ciri paling menarik dari karya anak yang belum dibelenggu oleh pendidikan akademik. Ia belum merasa harus patuh kepada perspektif, anatomi, proporsi atau cahaya. Ia lebih sibuk memastikan bahwa pesan visualnya sampai.
Perspektif yang Salah adalah Ingatan yang Benar
Secara akademis, perspektif lukisan ini tidak konsisten.
Atap sekolah di sebelah kanan mengembang secara ekstrem. Jalan merah hampir menjadi bidang datar. Bangunan-bangunan tidak seluruhnya tunduk pada satu titik hilang. Proporsi manusia dan arsitektur juga belum stabil.
Tetapi di sini kritik seni harus berhati-hati. Sebab, yang disebut “kesalahan” dalam perspektif optis bisa menjadi kebenaran dalam perspektif ingatan. Yang penting bagi Syifa bukan jarak geometris, melainkan jarak psikologis.
Apa yang penting dibesarkan. Apa yang harus dikenali dibuat jelas. Apa yang dekat dengan pengalaman anak diberi tempat.
Dalam logika itu, gedung BPRS Bhakti Sumekar memang pantas berada di tengah. Ia bukan semata gedung; ia adalah tanda yang dikenali.
Sekolah juga bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat anak menghabiskan sebagian hidupnya. Musala bukan semata arsitektur, ia adalah bagian dari lanskap sosial. Sedangkan keluarga menjadi manusia yang menghubungkan semua tanda tersebut.
Saya kira, dalam lukisan itu, Syifa sebenarnya memang tidak sedang ingin menggambar ruang. Ia sedang menggambar hubungan.

