Sumekar sebagai Metafora
Di sinilah saya kira lukisan Syifa dapat dibaca lebih jauh.
Jika sekar adalah bunga, dan sumekar adalah keadaan ketika bunga berkembang atau merekah, maka nama Sumekar dapat diperlakukan sebagai metafora yang sangat tepat untuk membaca lukisan ini.
Sebab apa yang dilakukan Syifa sebenarnya adalah membuat Sumenep mekar di atas kanvas.
Ia tidak melukis Sumenep dengan peta. Ia tidak melukis kepulauan. Ia tidak menggambar laut yang mengitari pulau-pulau. Ia lebih memilih beberapa tanda yang menurut pandangan seorang anak cukup untuk mengatakan: "Inilah tempat saya hidup!"
Musala adalah akar spiritualnya. Sekolah adalah masa depannya. Bank adalah denyut ekonominya. Keluarga adalah manusianya. Bendera sebagai identitas kebangsaan.
Tempat sampah disajikan sebagai kesadaran tentang ruang bersama, dan pepohonan, adalah alam yang masih menyertai semuanya.
Satu per satu, elemen itu seperti kelopak. Bersama-sama, ia membentuk bunga bernama Sumenep.
Di sini judul Bhakti Sumekar memperoleh lapisan yang tak terduga. Bukan hanya nama bank yang kebetulan masuk ke dalam lukisan, melainkan sebuah frasa yang dapat dibaca sebagai pengabdian kepada sesuatu yang sedang tumbuh.

