Gelar itu menjadi penanda sebuah perjalanan panjang yang sejak awal mempertemukan hukum, ekonomi syariah, masyarakat, tradisi, dan kehidupan sehari-hari.
Saya termasuk salah satu sahabat yang pada akhir tahun 2025 lalu berkesempatan menemaninya berkunjung ke sejumlah tokoh di Kabupaten Sumenep.
Kami bersilaturahmi dan berbincang dengan sastrawan dan budayawan D. Zawawi Imron, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep Mohamad Iksan, yang kini menjabat Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, serta sejumlah ketua organisasi dan tokoh masyarakat.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan-perjalanan itu.
Suaidi datang dengan sikap seorang pembelajar. Ia lebih sering mendengar, bertanya, lalu membiarkan percakapan berkembang. Dari kebudayaan, pendidikan, organisasi, sampai perubahan sosial, ia seperti sedang mengumpulkan serpihan pengetahuan dari banyak orang.
Mungkin itulah menurutnya cara paling sederhana untuk memahami perjalanan intelektualnya.
Suaidi tumbuh dari banyak ruang. Ia adalah putra sareyang dari tiga bersaudara, lahir di Mingsoy, Bragung, Guluk-guluk, Sumenep. Kini, ia mengabdi sebagai dosen tetap UIN Madura.
Putra dari pasangan Syafi’ie (alm.) dan Hj. Yasirah ini tumbuh dalam lingkungan Madura, menempuh pendidikan di Annuqayah Guluk-guluk, kemudian pergi ke Yogyakarta untuk memperdalam hukum ekonomi syariah dan hukum Islam.
Riwayat Akademik

