Dalam kacamata Suaidi, tompangan merupakan sebuah kebiasaan sosial yang tampak sederhana, tetapi justru yang sederhana itulah yang menurutnya sering menyimpan persoalan paling rumit.
"Kapan sebuah pemberian tetap menjadi pemberian? Kapan ia berubah menjadi kewajiban? Apa yang terjadi ketika nominalnya dicatat dan diingat? Bagaimana jika pengembalian menjadi ukuran kepantasan? Dan ketika adat telah berlangsung lama, bagaimana hukum Islam memandangnya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk penelitian Suaidi.
Dalam disertasinya, tompangan dibaca sebagai praktik yang memperlihatkan ekonomi transaksional, relasi kekuasaan antaraktor, dan tradisi diskursif syariah. Di dalamnya bertemu solidaritas, kewajiban sosial, kehormatan keluarga, pertukaran ekonomi, dan legitimasi keagamaan.
Di sini akademisi masuk ke sesuatu yang sangat dekat. Tradisi yang selama ini dijalankan karena “memang begitu caranya” dipaksa menjawab pertanyaan: mengapa demikian?
Pertanyaan semacam itu sering menjadi awal dari ilmu.
Amplop dan Ingatan
Benda kecil yang menarik dalam tompangan adalah, amplop. Di dalamnya ada uang. Tetapi dalam hubungan sosial, yang tersimpan bukan hanya uang. Ada nama, nominal, ingatan, dan harapan untuk suatu hari menerima kembali.

