Rumah adalah tempat seseorang belajar tentang nilai, hubungan, tanggung jawab, dan cara memandang dunia.

Seorang akademisi, betapapun jauh perjalanan intelektualnya, tetap membawa sebagian dari rumah itu ke dalam cara ia membaca kehidupan.

 

Tompangan dan Misteri Sosial

Pada akhirnya, saya kembali kepada tompangan. Tradisi ini menjadi simpul yang mempertemukan hukum, ekonomi, agama, adat, kehormatan, relasi sosial, dan kekuasaan.

Penelitian Suaidi menunjukkan bahwa tompangan bertahan karena berbagai lapisan kepentingan dan nilai: solidaritas sosial, gengsi, kehormatan keluarga, ajâgâ tèngka, kepatuhan sosial, legitimasi religius, dan hubungan timbal balik.

Itulah paradoks sebuah tradisi. Ia bertahan karena dianggap biasa. Tetapi ketika ditanya, ia ternyata tidak sederhana.

Sebuah amplop dapat menyimpan hubungan. Sebuah catatan dapat menyimpan kewajiban. Sebuah hajatan dapat menjadi arena pertukaran sosial. Dan sebuah tradisi dapat menjadi tempat hukum bernegosiasi dengan kenyataan.

Barangkali itu pula yang menjelaskan perjalanan Suaidi. Ia membaca kembali sesuatu yang terlalu dekat untuk kita pertanyakan.

Dari Pandi ke Yogyakarta. Dari Muamalah ke hukum Islam. Dari BMT ke tompangan. Dari buku ke masyarakat dan, dari sebuah tradisi lokal menuju pertanyaan yang jauh lebih universal: