Dua karya yang secara khusus memperlihatkan kedekatannya dengan tema disertasi ialah “A Critique of Contemporary Economic Justice and Sharia Economic Law on The Tompangan Tradition” pada 2024 dan “Halal but Forbidden? A Systems Approach to Tompangan Transactions in Sumenep, Madura” pada 2025.
Pada 2026, ia tercatat ikut menulis tentang moral obligation, social values creation, dan self-efficacy dalam keberhasilan sociopreneur Madura dalam halal branding UMKM.
Karya-karya itu memperlihatkan minat akademik yang terus mencari titik temu antara hukum dan kehidupan.
Prestasi dan Jejak
Ada beberapa penanda yang melengkapi perjalanan tersebut. Pada 2019, Suaidi tercatat menjadi pemateri Safari Kampus serta Koloman Budaya Seri Tadarus Pemikiran Islam.
Kemudian di tahun 2024, ia menjadi nominator BICOSH (Biennial International Conference on Social Sciences and Humanities). Tahun berikutnya (2025), ia tercatat sebagai finalis/awardee Nusantara Academic Writing Award (NAWA).
Namun bagi seorang akademisi, daftar prestasi barangkali bukan ukuran yang paling menarik. "Yang lebih penting adalah jejak," katanya.
"Berapa lama seseorang bertahan membaca. Berapa banyak pertanyaan yang sanggup ia rawat. Dan sejauh mana pengetahuannya kembali kepada masyarakat," imbuhnya.
Dalam hal itu, perjalanan Suaidi memperlihatkan kesinambungan antara pendidikan, pengajaran, organisasi, penelitian, dan penulisan.

